Beranda Pendidikan Hasil UN Siswa SMP/MTs Pandeglang Meningkat

Hasil UN Siswa SMP/MTs Pandeglang Meningkat

168
0
Kepala Dindikbud Pandeglang Olis Solihin. (Memed/bantennews)

 

PANDEGLANG – Hasil ujian nasional (UN)  siswa SMP/MTs Kabupaten Pandeglang meningkat. Tahun ini berada di posisi enam dari delapan kabupaten/kota di Banten. Sementara tahun lalu, hasil UN siswa Pandeglang berada di urutan terbawah.

Peringkat pertama hasil UN tahun ini dipegang oleh Kota Tangerang Selatan disusul Kota Cilegon selanjutnya Pandeglang di urutan keenam, ketujuh ditempati Kabupaten Serang dan yang berada di urutan terbawah tahun ini adalah Kabupaten Lebak.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang Olis Solihin menyampaikan bahwa pada tahun lalu Pandeglang memang berada di urutan terbawah sehingga dirinya ditegur langsung oleh bupati agar tahun ini peringkatnya tidak kembali di paling bawah.

“Jadi begini, apa yang disampaikan bupati soal hasil UN 2017-2018 kita ranking 8. Beliau minta sama saya, bisa rankingnya tidak diurutan kedelapan, kata saya Insya Allah. ,Terus saya mengumpulkan kepala sekolah (kepsek), para pengawas, para guru untuk memberikan motivasi dan supervisor ternyata hasilnya juga UN tahun ini bisa mengalahkan Kabupaten Serang dan Lebak,” terang Olis, Kamis (30/5/2019).

Di tempat yang sama Bupati Pandeglang Irna Narulita mengatakan dirinya merasa sangat malu dengan hasil UN tahun lalu, sehingga dirinya mempertanyakan pada dinas terkait tenrang permasalahan utama yang menjadikan Pandeglang berada di peringkat terbawah. Menurutnya, ada dua faktor yang bisa menyebabkan peringkat UN tahun lalu berada di level bawah, entah itu dari peserta didiknya atau dari tenaga pendidik.

“”Meskipun di ranking keenam tetapi saya berharap tahun akan datang kami bisa masuk 3 besar, supaya kita jangan ada di ranking paling bawah terus. Sehingga jangan Pandeglang dan Lebak yang disebut terus tapi kenapa di kabupaten/kota lain bisa memberikan pelayanan sehingga mutu pendidikan bisa lebih baik karena ada komitmen,” kata Irna.

Ia menambahkan, memang seharusnya lembaga pendidikan jadi rumah kedua bagi peserta didik sehingga siswa merasa nyaman selama mengikuti jam pelajaran, dengan harapan bisa menimbulkan minat dari para siswa untuk terus belajar. Selain itu tenaga pendidik serta kurikulum bahan ajaran pun harus ikut menunjang pembelajar bagi siswa.

“Jadi kehadiran, kedisiplinan, kenyamanan, menciptakan sekolah ramah anak, kantin sehat sehingga jadi penopang produktifitas mereka baik karena kesehatan terus jadi sekolah adiwiyata sehingga sekolah jadi rumah kedua bagi mereka dan minat mereka jadi terpancing, ya kecerdasan-kecerdasan yang selama ini terpendam bisa muncul,” tambahnya. (Med/Red)