KAB. TANGERANG – Penanganan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, memasuki hari kelima. Pemerintah Kabupaten Tangerang menyebut luas titik api yang masih aktif berhasil ditekan hingga tersisa 3,6 persen dari kondisi awal yang diperkirakan mencapai 70 persen.
Penurunan titik api tersebut merupakan hasil operasi gabungan yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Tangerang, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Manggala Agni, TNI, Polri, serta relawan. Proses pemadaman dilakukan melalui jalur darat menggunakan alat berat dan armada pemadam kebakaran, serta jalur udara melalui operasi water bombing.
Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid mengatakan, TPA Jatiwaringin memiliki luas sekitar 33 hektare dengan area aktif pembuangan sampah mencapai 27 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 15 hektare terdampak langsung kebakaran.
“Sejak hari pertama kami langsung bergerak. Pada hari kedua status darurat ditetapkan dan Satgas Penanganan dibentuk agar penanganan berjalan lebih terkoordinasi. Pemadaman dilakukan dari darat dan udara,” kata Maesyal saat meninjau lokasi, Minggu (5/7/2026).
Selain fokus pada pemadaman, pemerintah daerah juga melakukan penanganan terhadap warga yang terdampak asap kebakaran. Dua posko kesehatan disiagakan selama 24 jam di wilayah Desa Rajeg Mulya dan Desa Tanjakan Mekar.
Menurut Maesyal, hingga hari kelima sebanyak 210 warga telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Dari jumlah tersebut ditemukan 72 warga mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kategori ringan.
“Semua pasien berhasil ditangani di tingkat puskesmas. Tidak ada yang harus dirujuk ke rumah sakit karena kondisinya dapat ditangani oleh tenaga medis yang berjaga secara bergantian,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebutuhan logistik bagi masyarakat yang terdampak juga terus dipenuhi melalui koordinasi antara pemerintah desa, kecamatan, dan perangkat daerah terkait.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat yang meninjau langsung lokasi kebakaran memberikan apresiasi terhadap penanganan yang dilakukan tim gabungan karena mampu menekan titik api secara signifikan.
Menurutnya, pemerintah pusat juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan guna memastikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak berjalan optimal.
“Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri Kesehatan agar dukungan penanganan kesehatan terus diberikan. Negara harus hadir melindungi masyarakat,” ujar Jumhur.
Dalam kesempatan itu, Jumhur juga menyoroti sistem pengelolaan TPA dengan metode open dumping yang dinilai memiliki risiko tinggi memicu kebakaran akibat akumulasi gas metana di bawah timbunan sampah.
Ia menyebut masih terdapat sekitar 400 TPA di Indonesia yang menggunakan sistem serupa sehingga pemerintah daerah diminta segera melakukan perbaikan pengelolaan sampah.
“Kebakaran seperti ini merupakan bencana buatan manusia yang sebenarnya dapat dicegah. Pemerintah daerah harus melakukan mitigasi sejak dini, melarang aktivitas yang memicu api di kawasan TPA, serta menyiapkan sistem pengelolaan yang lebih aman seperti sanitary landfill,” tegasnya.
Untuk mempercepat pemadaman total, tim gabungan memanfaatkan citra satelit dan pemantauan udara menggunakan drone guna mengidentifikasi sisa titik api yang sebagian besar masih berada di sisi barat TPA.
Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup bersama BNPB juga mengkaji kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan apabila kondisi atmosfer dan pembentukan awan memenuhi persyaratan.
Di sisi lain, Menteri Jumhur mengingatkan seluruh personel agar tetap mengutamakan keselamatan kerja saat mengoperasikan alat berat di area timbunan sampah. Menurutnya, rongga-rongga kosong akibat pembentukan gas metana berpotensi menyebabkan permukaan tanah ambles sehingga membahayakan petugas di lapangan.
Hingga Minggu sore, proses pemadaman dan pendinginan masih terus dilakukan dengan target menghilangkan seluruh titik api yang masih tersisa serta mencegah kebakaran kembali meluas.
Tim Redaksi
