Beranda Peristiwa Hari Keempat Pencarian, Keluarga Jurnalis dan ABK Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Hari Keempat Pencarian, Keluarga Jurnalis dan ABK Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Keluarga lima jurnalis yang hilang kontak menunggu kabar terbaru di posko pencarian yang disediakan petugas di Pantai Marina, Carita, Pandeglang. (Mg-Madani Prasetia/Bantennews)

PANDEGLANG – Hari keempat pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda kembali berlalu tanpa kabar. Di Posko Marina Lippo Carita, Kabupaten Pandeglang, Jumat (11/9/2026).

Keluarga masih menunggu satu berita yang paling mereka inginkan, delapan orang itu ditemukan dan pulang dengan selamat.

Ketidakpastian semakin berat. Namun keluarga belum beranjak dari harapan.

Pantauan BantenNews.co.id di Posko Marina Lippo Carita, Pandeglang, menunjukkan keluarga lima jurnalis dan tiga awak kapal terus datang dan bertahan. Perwakilan perusahaan media tempat kelima jurnalis bekerja juga masih menunggu perkembangan operasi pencarian dari tim SAR gabungan.

Di tengah penantian itu, Mansyur Suryana, ayah jurnalis LKBN Antara Muhammad Bagus Khoirunnas, tak mampu menahan kesedihan.

Setiap hari ia menangis ketika bertemu rekan-rekan wartawan yang ikut menunggu di posko.

“Saya tiap hari menangis kalau ketemu teman-teman wartawan. Biasanya Bagus sering liputan berhari-hari, tapi kali ini tidak ada kabarnya,” kata Mansyur.

Bagus berangkat menjalankan tugas jurnalistik. Ia bersama sejumlah jurnalis lain hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).

Namun, Mansyur tidak mengetahui keberangkatan itu. Bagus memang jarang bercerita kepada keluarga tentang agenda liputannya.

“Kalau tahu Bagus mau ke GAK, pasti saya larang,” ucapnya.

Mansyur masih mengingat pertemuan terakhirnya dengan seorang wartawan pada Senin sore sekitar pukul 15.00 WIB di kawasan Carita. Saat itu ia sempat menanyakan keberadaan Bagus.

Jawaban yang ia terima sederhana: Bagus menuju Pantai Carita.

“Saya kira cuma motret suasana pantai. Tidak ada firasat apa-apa,” ucapnya.

Mansyur mengenal Bagus sebagai jurnalis foto yang tak pernah puas mengejar gambar terbaik. Bagus terbiasa masuk ke pelosok Lebak dan Pandeglang seorang diri, bahkan saat malam.

Baca Juga :  Catat! Ini Nomor Penting Keamanan dan Keselamatan saat Mudik Lebaran di Kota Tangerang

“Dia orangnya berani. Tidak takut masuk hutan, tidak takut begal. Demi liputan dia jalan sendiri,” tuturnya.

Keberanian itu kini justru membuat sang ayah dihantui kecemasan. Mansyur tetap menyimpan kebanggaan terhadap putranya.

Bagus menempuh pendidikan psikologi meski belum menyelesaikan S1. Namun, karya fotografinya mampu menembus media nasional hingga internasional.

Sejumlah hasil jepretan Bagus bahkan pernah diunggah Presiden RI Prabowo Subianto.

“Dia selalu ingin hasil fotonya lebih bagus lagi. Mungkin itu yang membuat dia berani mengambil risiko dalam pekerjaan,” kata Mansyur.

Bagi Mansyur, pekerjaan wartawan bukan sekadar mencari nafkah. Ia melihat profesi itu sebagai bentuk pengabdian karena jurnalis menyampaikan informasi yang masyarakat butuhkan.

Namun, di hari keempat pencarian, semua kebanggaan itu kalah oleh satu keinginan untuk melihat anaknya kembali.

Mansyur berusaha menerima semua kemungkinan. Tetapi ia menolak mematikan harapan.

“Saya optimistis Bagus bisa ketemu. Saya percaya doa-doa teman-teman dan masyarakat akan mengantarkan anak saya pulang,” ujarnya.

Pesan terakhir Mansyur untuk Bagus pun sederhana. Tidak ada tuntutan soal pekerjaan. Tidak ada soal hasil liputan, hanya keselamatan.

“Bagus, utamakan keselamatan. Bekerjalah sebaik mungkin, tapi jangan sampai membuat orangtua kehilanganmu,” ujarnya.

Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd