Beranda Pariwisata Harga Tiket Pantai Anyer Melonjak, Disporapar Kabupaten Serang Anggap Biasa

Harga Tiket Pantai Anyer Melonjak, Disporapar Kabupaten Serang Anggap Biasa

Jalur Alternatif menuju Kawasan Wisata Anyer - foto Wahyu Arya/BantenNews.co.id

 

SERANG – Pantai Anyer menjadi salah satu kawasan wisata yang banyak diserbu wisatawan saat libur lebaran. Tak hanya wisatawan dari Banten, pengunjung dari Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan daerah lain di Nusantara juga datang ke pantai di ujung barat Pulau Jawa ini.

Banyaknya wisatawan ini menarik pengelola pantai untuk menaikkan tarif masuk. Tarif masuk pantai di Anyer ini menjadi viral di media sosial karena harganya terlampau tinggi dibandingkan tarif pantai di daerah lain. Untuk kendaraan pribadi dipatok tarif hingga Rp100 ribu.

Namun tarif  sebesar ini, menurut Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang Tahyudin adalah biasa. Menurutnya, di luar libur kendaraan tarif di pantai Anyer yakni  Rp 75 ribu untuk kendaraan pribadi, Rp 800 ribu untuk bus, dan Rp 20 ribu untuk sepeda motor. “Biasanya 75 ribu jadi 100 ribu lebaran. 800 bus bukan tiket. Kalau ada 60 orang di bus berarti 14 ribuan, nggak terlalu mahal,” kata Tahyudin saat dikonfirmasi, Serang, Banten, Jumat (22/6/2018).

Harga tiket sebesar itu, ia mengatakan bahwa tak sepeserpun masuk ke kantong Pemkab Serang. Pantai diurus secara autopilot oleh pemilik. Ia mengatakan bahwa kebanyakan pemilik pantai di Anyer adalah warga Jakarta dan dikelola oleh warga lokal.
“Itu pantai punya masing-masing, per orangan. Nggak ada pemasukan. Jadi pantai terbuka, dikuasai oleh perorangan nggak ada pemasukan untuk pemerintah,” katanya.

Ia melanjutkan, karena diurus oleh masing-masing pemilik, Pemkab tidak dapat mengkontrol pengelolaan wisata pantai Anyer. Pemkab pun tidak bisa intervensi pengaturan biaya tiket untuk wisatawan masuk ke sana.
“Nggak masalah kalau kalau terorganisir dengan baik,” ungkapnya.

Sejauh ini, Pemkab menurutnya masih mendata mengenai kepemilikan pantai di Anyer. Tapi, ia mengaku kesulitan karena rata-rata pengelola di pantai tertutup ke Pemda. Khususnya karena kepimilikan pantai oleh orang luar. (ink/red)