
PANDEGLANG – Anjloknya harga telur ayam membuat peternak di Kabupaten Pandeglang menjerit. Mereka mengaku pendapatan dari penjualan telur kini tak lagi mampu menutup biaya operasional peternakan.
Nuraeni, peternak ayam petelur asal Kelurahan Juhut, Kecamatan Karangtanjung, mengatakan dirinya terus menombok untuk menutupi biaya produksi harian.
Harga jual telur saat ini tidak sebanding dengan tingginya biaya pakan, vitamin, obat-obatan, hingga operasional kandang.
“Setiap hari kami produksi, tapi bukannya untung malah nombok. Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin banyak peternak gulung tikar,” kata Nuraeni, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, harga telur di tingkat peternak sebelumnya berada di angka Rp25 ribu per kilogram. Namun dalam tiga pekan terakhir, harga anjlok menjadi sekitar Rp20 ribu per kilogram.
Di sisi lain, harga pakan masih tinggi dan menjadi beban terbesar bagi peternak.
“Sekarang harga telur di tingkat peternak sekitar Rp20 ribu per kilogram, turun Rp5 ribu dari harga normal Rp25 ribu. Harga pakan Rp380 ribu per sak, sementara harga jagung Rp7.500 per kilogram. Harga jual telur sekarang jelas enggak masuk,” ujarnya.
Menurut Nuraeni, turunnya harga telur dipicu melimpahnya pasokan di pasar, sementara daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.
Ia juga menilai penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut menekan permintaan telur di pasaran.
“Sudah tiga pekan terakhir harga terus merosot. Selain stok melimpah, penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis juga ikut bikin harga turun,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat banyak peternak khawatir usahanya tidak mampu bertahan jika harga terus berada di level rendah.
Nuraeni berharap pemerintah segera turun tangan untuk menjaga stabilitas harga telur sekaligus mengendalikan harga bahan baku pakan.
“Harapannya harga telur bisa balik ke standar nasional sekitar Rp25 ribu per kilogram, supaya kami enggak terus merugi dan usaha tetap jalan,” tutupnya.
Penulis : Memed
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd