
PANDEGLANG — Harga berbagai jenis plastik di Kabupaten Pandeglang melonjak hingga 100 persen. Lonjakan ini langsung menekan pelaku usaha, dengan penurunan omzet pedagang mencapai 40–50 persen.
Pelaksana Bidang Perdagangan DKUPP Pandeglang, Santosa Nugraha menyebut, kenaikan terjadi pada kantong plastik, gelas plastik, hingga botol kemasan.
“Harga plastik naik drastis. Kantong plastik, cup, sampai botol air mineral ikut terdampak,” tegas Santosa, Senin (27/4/2026).
Ia mengaitkan lonjakan harga dengan konflik Iran–Israel yang mengganggu jalur distribusi bahan baku impor melalui Selat Hormuz. Ketergantungan terhadap bahan baku luar negeri membuat harga langsung terdorong naik.
“Bahan baku banyak dari impor. Gangguan distribusi membuat harga melonjak,” ujarnya.
Dampaknya mulai terasa di sektor industri. Sejumlah pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) di Pandeglang menghentikan produksi karena kekurangan kemasan plastik.
“Ada perusahaan AMDK yang sudah berhenti produksi karena tidak punya kemasan,” kata Santosa.
Ia menjelaskan tren kenaikan mulai terlihat sejak Februari, lalu mencapai puncak pada April. Selama konflik belum mereda, harga plastik berpotensi terus naik.
Di tingkat pedagang, kondisi ini memukul penjualan. Harga plastik kresek masih tersedia, namun jauh lebih mahal sehingga menekan daya beli konsumen.
“Pedagang mengeluh. Omzet turun sampai 40–50 persen,” ujarnya.
DKUPP Kabupaten Pandeglang melaporkan kondisi ini ke pemerintah provinsi dan pusat untuk mendorong langkah penanganan agar dampaknya tidak meluas.
Penulis : Memed
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd