LEBAK ā Kenaikan harga kedelai yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat para pengrajin tahu di Kabupaten Lebak, Banten, mengeluhkan meningkatnya biaya produksi. Harga kedelai yang sebelumnya berkisar Rp300 ribu per kuintal kini melonjak menjadi Rp545 ribu per kuintal.
Salah seorang pengrajin tahu di Rangkasbitung, Mad Soleh, mengatakan kenaikan harga kedelai berdampak langsung terhadap keberlangsungan usahanya. Kondisi tersebut diperparah dengan naiknya harga kayu bakar dan minyak yang menjadi kebutuhan utama dalam proses produksi.
“Harga kedelai saat ini mencapai sekitar Rp545 ribu per kuintal, naik signifikan dibanding sebelumnya yang berada di kisaran Rp300 ribu per kuintal. Pengeluaran sekarang sangat besar. Kenaikan nilai dolar, baik secara langsung maupun tidak langsung, berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Akibatnya penjualan menurun dan produksi kami ikut merosot,” kata Mad Soleh, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, lonjakan biaya produksi memaksanya untuk mengurangi kapasitas produksi sekaligus memangkas jumlah tenaga kerja. Jika sebelumnya mempekerjakan enam karyawan, kini hanya tersisa tiga orang.
Selain itu, Mad Soleh juga terpaksa memperkecil ukuran tahu yang diproduksi agar harga jual tetap dapat dijangkau oleh konsumen tanpa menimbulkan kerugian yang lebih besar.
“Kalau ukuran tetap sementara biaya produksi naik terus, kami bisa rugi. Jadi ke depannya harga mungkin tetap, tetapi ukuran tahu yang disesuaikan supaya usaha tetap berjalan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kondisi tersebut turut berdampak pada omzet usaha yang mengalami penurunan hingga 50 persen. Produksi tahu yang sebelumnya jauh lebih besar kini hanya sekitar 50 kilogram per hari.
“Omzet turun sekitar 50 persen. Produksi sekarang hanya sekitar 50 kilogram per hari,” ucapnya.
Para pengrajin berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai agar usaha kecil dan menengah yang bergantung pada bahan baku tersebut tetap dapat bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo
