Beranda Bisnis Harga Ayam di Pasar Badak Pandeglang Tembus Rp40 Ribu, Omzet Pedagang Anjlok

Harga Ayam di Pasar Badak Pandeglang Tembus Rp40 Ribu, Omzet Pedagang Anjlok

Pedagang ayam potong di Pasar Badak Pandeglang mrnunggu pembeli. (Mg-Madani Prasetia/bantennews)

PANDEGLANG – Harga daging ayam di Pasar Badak, Pandeglang, terus menanjak. Dalam sebulan, harganya melonjak dari Rp33.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.

Kenaikan sekitar Rp7.000 itu mulai terasa sejak Juli 2026. Pedagang kini menghadapi masalah baru: pembeli mengerem belanja, sementara omzet ikut terjun bebas.

Endi, pedagang ayam di Pasar Badak, mengatakan harga ayam terus naik tanpa tanda-tanda kembali turun.

“Harganya melambung, terus naik, terus enggak ada turun. Harga sebelumnya itu Rp33 ribu per kilogram,” kata Endi kepada Bantennews.co.id, Kamis (13/8/2026).

Menurut Endi, tingginya permintaan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut mendorong kenaikan harga. Kenaikan harga pakan juga menambah tekanan terhadap harga jual.

“Bahkan waktu saya di RPH sering enggak kebagian, katanya diambil sama dapur MBG,” ujarnya.

Kenaikan harga langsung menghantam penjualan pedagang. Endi biasanya mampu menjual sekitar 2 kuintal ayam per hari. Kini, satu kuintal pun belum tentu habis.

“Sekintal saja ini saya jual enggak habis. Pembeli juga berkurang, yang berpengaruh ke omzet turun sampai 40 persen,” katanya.

Pedagang pun meminta pemerintah turun tangan menjaga keseimbangan pasokan dan harga. Jika harga terus naik, daya beli masyarakat berpotensi semakin tertekan.

“Harapannya pemerintah bisa menstabilkan harga daging ayam di pasaran, karena ini kebutuhan pokok masyarakat,” ujar Endi.

Keluhan serupa datang dari konsumen. Lina, warga yang berbelanja di Pasar Badak, mengaku harus mengurangi pembelian karena harga ayam semakin mahal.

“Jelas sangat mahal bagi kita masyarakat yang biasa belanja ayam. Ini jadi mengurangi jumlah pembelian. Harusnya harga daging ayam bisa turun,” kata Lina.

Kondisi ini membuat pedagang dan pembeli sama-sama terjepit. Pedagang kehilangan omzet, sementara konsumen harus mengurangi belanja untuk menyesuaikan isi dompet.

Baca Juga :  PT Krakatau Steel dan Group Salurkan Bantuan Gempa Lombok

Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd