Beranda Sosial dan Budaya Gunung Pulosari dan Proses Islamisasi di Banten

Gunung Pulosari dan Proses Islamisasi di Banten

Gunu Pulosari - foto istimewa swarga.com

Gunung memiliki peran penting bagi masyarakat Hindu, terutama di era kerajaan Sunda Banten. Selain sebagai pusat spiritual, gunung memiliki peran bagi pusat nilai bagi masyarakat.

“Gunung Pulosari jadi gunung suci tempat mandala dalam kosmologi masyarakat Hindu kala itu,” kata Direktur Bantenologi Helmi Faizi Bahrul Ulumi, Selasa (13/11/2018).

Hal itu terlihat dari posisi Gunung Pulosari sebagai salah satu gunung yang memiliki nilai historis bagi proses islamisasi di Banten. Sebelumnya, gunung berapi yang ada di wilayah Pandeglang, Banten ini merupakan “tempat suci” bagi umat Hindu yang ada di Banten. Di gunung ini konon menjadi tempat keramat bagi kerajaan Sunda kala itu.

Menurut catatan sejarah, misalnya, di gunung berketinggian 4.416 kaki tersebut terdapat “Arca Caringin”, dekat kawah Gunung Pulosari. Arca tersebut terdiri dari satu dasar patung dan lima arca berupa Shiwa Mahadewa, Durga, Batara Guru, Ganesha dan Brahma.

Sebagai pusat spiritual kerajaan era Banten Girang, Sunan Gunung Jati dan putranya Hasanuddin melihat Gunung Pulosari sebagai Brahmana atau kendali. Di atas gunung itu, konon hidup 800 ajar (pendeta) di bawah pimpinan raja Pajajaran Ragamulya alias Prabu Surya Kencana atau yang dikenal dengan Prabu Pucuk Umun (1537 – 1579 M).

Hasanuddin tinggal hampir 10 tahun di Gunung Pulosari dan berhasil mengislamkan kaum ajar tersebut dan mengambil alih pimpinan spiritual di sana. Sementara bagi masyarakat yang menolak masuk Islam bergeser ke daerah pegunungan Selatan, yang dikenal dengan Pegunungan Kendeng, Kanekas, Banten.

Posisi Gunung Pulosari memiliki sejarah yang cukup strategis di antara tempat lainnya seperti Gunung Karang, dan Gunung Aseupan.

Etika Terhdap Alam

Posisi “sakral” gunung di era Islam di Banten, menurut Helmi masih terasa. Salah satu indikatornya, ada beberapa tokoh suci dimakamkan di puncak-puncak bukit dan gunung. “Salah satu contohnya Gunung Santri,” jelas Helmi.

Untuk masyarakat tradisional, penghormatan terhadap gunung merupakan representasi dari etika terhadap alam. “Untuk masyarakat tradisional yang muslim, mereka tetap menjaga etika terhadap alam, tapi bukan bersumber dari ajaran Islam, melainkan dari norma-norma tradisional (adat) mereka. Selebihnya, jika masih ada yang menjalankan etika lingkungan itu biasanya dilakukan kaum Sufi atau tarekat,” jelasnya.

Hasil penelitian yang ia lakukan belum lama ini, menemukan bukit dan gunung di Banten sebagai tempat pemakaman dan tempat menyimpan benda-benda prasejarah. Terhadap tempat tersebut, Helmi menemukan masyarakat mendatangi tempat tersebut untuk ziarah. “Jadi ziarah di Banten bukan hanya mendatangi pemakaman, tapi di beberapa tempat hanya merupakan tempat benda prasejarah yang diperlakukan layaknya makam,” paparnya. (you/red)