Beranda Opini Generasi Milenial Bukan Generasi Mie Instan

Generasi Milenial Bukan Generasi Mie Instan

Ilustrasi - foto istimewa liputan6.com

Oleh : Yenny Merinatul Hasanah, Pengurus Pusat Layanan Disabilitas Universitas Pamulang dan Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang

Tanah airku Indonesia…, negeri yang elo amat ku cinta…beginilah sepenggal syair atas perenungan akan kecintaanya terhadap Ibu pertiwi dengan beragaman dan kekayaan etnis, suku, budaya, agama, dan rasial yang telah dipersatukan para pendiri bangsa Indonesia dalam bhineka tunggal ika yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu jua yang tertuang dalam naskah pancasila sebagai akar dan dasar negara. Sebagai awal ikatan kuat memerdekakan hak-hak manusia dengan kedaulatan sebagai sebuah bangsa.

“Berikan aku 10 pemuda akan ku goncang seluruh dunia” (merupakan isi pidato Bung Karno) diilhami dari pancasila memunculkan pemuda diseluruh Indonesia bersatu melawan neo kolonialisme dan neo imprealis barat dalam mewujudkan nilai luhur perdamaian abadi cita-cita bangsa Indonesia.





Perbedaan zaman dan perkembangannya melihat para pemuda memperjuangkan Ibu pertiwi pada masa lalu dengan masa sekarang ini terdapat perbedaan pada sikap mental, daya juang dan sifat militan untuk mewujudkan hak dan kewajibannya secara pribadi, kelompok, sosial, agama, ras atau etnisnya masing-masing.

Kemerosotan aqidah, akhlak/moral, budi pekerti dilingkungan masyarakat menjadi lebih buruk dalam berprilaku dan semakin banyak yang tidak memperdulikan hak-hak orang lain. Kemerosotan tersebut ditandai maraknya perilaku menyimpang dan kejahatan. Karakter sebuah bangsa dengan nilai budi pekerti luhur yag telah diajarkan secara turun temurun sebagai tradisi budaya dari nenek moyang kita sebagai tauladan yang terkandung nilai-nilai dan norma kebaikan bagi keutuhan karakter bangsa Indonesia yang majemuk dengan multikultur dan etnisnya.

Perkembangan dan kemajuan zaman membangkitkan peradaban baru disegala bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan lainnya seperti dalam bidang teknologi dan media informasi yang pesat memaksa kita harus mengikuti pasar dan menjadi konsumen tetap setiap hari.
Budaya konsumtif masyarakat terhadap kemajuan teknologi dan kemudahan mendapatkan informasi, menjadikan masyarakat khususnya anak-anak dan para remaja mudah terprovokasi dan tersulut dengan kemarahan dengan berita-berita atau tulisan-tulisan yang belum tentu kebenarannya.

Munculnya kebiasaan baru ditengah-tengan masyarakat dalam mengakses dan menggunakan informasi secara mudah dalam bentuk media elektronik yang berbasis teknik industri menjadikan pemenuhan kebutuhan setiap harinya lebih mudah seperti sandang, pangan, dan papan melalui daring.

Kearifan lokal budaya dan pendidikan karakter sangatlah penting sebagai kondisi dan akar yang kuat dalam menjaring dan mentransformasikan segala sesuatu yang didapatkan sesuai dengan prosesnya masing-masing tanpa mengesampingkan nilai dan norma budaya yang semakin dilupakan.

Jangan sampai kita menjadi sama seperti bangsa lain yang ikut-ikutan (norak) menirukan budaya lain sehingga meneror budaya kita sendiri bahkan memusnahkan budaya dan karakter bangsa Indonesia yang dicita-citakan dan menjadi kebanggaan para pejuang dan pendiri bangsa pada masa yang akan datang menjadi bangsa yang besar dengan kemajuan industri dan budayanya.

(***)