SERANG – Lantunan selawat dan irama tabuhan rebana saling bersahut-sahutan, membelah hiruk pikuk suasana kampung di Kota Serang. Ribuan pasang mata berbinar di bawah terik matahari, menyatu dalam kerumunan yang memadati sepanjang jalan raya.
Pagi itu, jalanan aspal seketika berubah menjadi panggung kebudayaan yang megah nan hangat, menyambut tibanya bulan kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW dengan penuh rasa takzim.
Pemandangan memikat segera menyita perhatian siapa saja yang melintas, tak terkecuali bagi warga dari penjuru lain Kota Serang yang sengaja datang untuk menyaksikan tradisi tahunan ini. Salah satunya adalah Bayu Prawira, warga Lopang, Kota Serang, yang berdiri di tepi jalan seraya menatap kagum barisan replika unik berhias pita warna-warni yang berkilau terpapar cahaya mentari, menghadirkan sukacita yang begitu menular.
Kreativitas masyarakat Banten tampak tumpah ruah dalam wujud “panjang” yang mereka buat secara swadaya dan penuh ketelatenan. Ada replika unta megah yang mengingatkan pada tapak tilas sejarah jazirah tempat sang Nabi dilahirkan, berdiri gagah di antara kerumunan warga. Di sudut lain, miniatur perahu, bangunan masjid yang anggun, hingga replika rumah tradisional berjejer rapi, menjadi bukti betapa kayanya imajinasi dan ketulusan hati para pembuatnya.
Namun, kemegahan fisik replika-replika tersebut sejatinya hanyalah permadani pembungkus dari makna yang jauh lebih dalam. Di dalam setiap rongga miniatur yang diarak, tersimpan aneka ragam barang kebutuhan, sembako, pakaian, hingga sajian makanan khas yang disiapkan dengan penuh keikhlasan. Setiap bingkisan yang tersusun rapi di dalamnya adalah kristalisasi dari semangat gotong royong warga yang ingin meluapkan rasa syukur dan kegembiraan.
Iring-iringan musik tradisional terbang terus mengiringi langkah para pengarak, memompa semangat ribuan warga yang tak kenal lelah menyusuri rute pawai. Dentuman ritmis yang harmonis itu seakan menyatu dengan denyut nadi kota, menghapus sekat-sekat perbedaan dan menyatukan seluruh kalangan dari berbagai kampung dalam satu napas kebersamaan yang hangat.
“Melihat antusiasme warga dan indahnya tradisi Panjang Mulud ini selalu membuat hati bergetar,” tutur Bayu Prawira di sela-sela riuhnya arak-arakan. “Bagi kami masyarakat Kota Serang, tradisi ini bukan sekadar tontonan atau pawai tahunan, melainkan ajang silaturahmi besar dan pengingat untuk selalu peduli serta saling berbagi rezeki kepada sesama.”
Bagi masyarakat Serang, tradisi Panjang Mulud memang warisan leluhur yang mengakar kuat di dalam sanubari dan dirawat layaknya pusaka hidup. Dari generasi ke generasi, perayaan ini menjadi sarana edukasi budaya yang sangat berharga, mengajarkan anak-anak muda tentang keindahan bersedekah serta pentingnya memelihara simpul persaudaraan di tengah dinamika zaman yang kian individualis.
Suasana kian syahdu manakala arak-arakan megah tersebut akhirnya tiba di pelataran Masjid Al-Ikhlas. Alunan selawat penutup berkumandang haru, menandai puncak perjumpaan warga di rumah ibadah yang menjadi episentrum doa, rasa syukur, dan kebersamaan mereka sepanjang hari.
Di sanalah esensi sejati dari tradisi ini menemukan puncaknya saat seluruh muatan di dalam replika panjang mulai dibongkar dan dibagikan secara merata. Tidak ada tangan yang terabaikan; semua orang, tua maupun muda, kaya ataupun sederhana, bersama-sama menikmati berkah makanan dan hadiah dengan senyum terkembang, mencerminkan indahnya keadilan sosial berbalut nilai spiritual.
Ketika senja mulai membayang di ufuk Kota Serang dan arak-arakan perlahan usai, kehangatan itu tidak lantas pudar ditelan waktu. Jejak tradisi Panjang Mulud tetap tinggal di dalam hati masyarakat, meninggalkan pesan sunyi namun bertenaga bahwa dalam indahnya berbagi dan kebersamaan, ada berkah abadi yang akan terus merawat kerukunan tanah Banten.
Tim Redaksi
