Beranda Komunitas Gelar Kesultanan dan Perjalanan Haji Orang Banten

Gelar Kesultanan dan Perjalanan Haji Orang Banten

759
0
Kawasan Banten Lama - foto istimewa Instagram

Dari mana gelar ‘kesultanan’ Banten? Pertanyaan tersebut jika merujuk catatan Martin Van Bruinessen, bahwa pada tahun 1630-an raja Banten dan raja Mataram yang saling bersaing mengirim utusan ke Mekkah.

Kedua kerajaan tersebut mengirim utusan untuk antara lain mencari pengakuan dari Makkah dan meminta gelar ‘Sultan’. “Agaknya raja-raja tersebut beranggapan bahwa gelar yang diperoleh dari Mekah akan memberi sokongan supranatural terhadap kekuasaan mereka,” tulis Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (2012).

Padahal, menurut Bruinessen di Makkah sendiri tidak ada instansi yang pernah memberi gelar kepada penguasa lain. Para raja Jawa tadi rupanya menganggap bahwa Syarif Besar yang menguasai Haramain atau Mekah dan Madinah memiliki spiritual atas seluruh Dar al-Islam.

Rombongan utusan dari Banten pulang pada tahun 1638 sedangkan yang dari Mataram baru sampai pada tahun 1641. “Selain gelar Sultan mereka membawa berbagai hadiah dari Syarif Besar kepada Sang Raja antara lain potongan kiswah yakni kain hitam yang menutup Ka’bah dan yang setiap tahun diperbaharui,” tulisnya.

Beberapa puluh tahun kemudian pada tahun 1674 untuk pertama kalinya seorang pangeran Jawa juga naik haji. Ia adalah putra Sultan Ageng Tirtayasa atau Abdul Qahar yang belakangan dikenal sebagai Sultan Haji.

Perjalanan haji sendiri bagi masyarakat Banten bukan hanya sekedar ritual atau salah satu rukun Islam yang yang harus ditunaikan ketika seseorang mampu melaksanakannya. Dalam konteks sejarah, ibadah haji merupakan gerakan politik dan legitimasi Kesultanan Banten sebagai salah satu wilayah kerajaan berbasis Islam.

Jemaah haji asal Banten (Sumber foto tipsiana.com)

Tidak heran perjalanan haji melalui jalur laut menggunakan kapal api berbulan-bulan kala itu yang cukup berbahaya tetap ditempuh sebagai salah satu upaya menunaikan rukun Islam yang kelima.

“Sebelum ada kapal api, perjalanan haji tentu saja harus dilakukan dengan perahu layar yang sangat tergantung kepada musim. Dan biasanya para Haji menumpang pada kapal dagang dan ini berarti mereka terpaksa sering pindah kapal perjalanan membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di nusantara ke Aceh, pelabuhan terakhir di Indonesia. Oleh karena itu dijuluki serambi Mekah,” tulis Bruinessen.

Di Aceh, sebagaimana penuturan Bruinessen, para calon jamaah haji menunggu kapal ke India. Di India mereka kemudian mencari kapal yang bisa membawa mereka ke Hadramaut, Yaman atau langsung ke Jeddah. Perjalanan ini bisa memakan waktu setengah tahun sekali jalan bahkan lebih.

“Para Haji berhadapan dengan bermacam-macam bahaya tidak jarang perahu yang mereka tumpangi karam dan penumpangnya tenggelam atau terdampar di pantai tak dikenal. Ada haji yang semua harta bendanya dirampok bajak laut atau malah awak perahu sendiri.”

Selanjutnya, sebagai musafir di perjalanan selanjutnya suku Badui sering merampok rombongan haji yang menuju Mekkah. Tidak jarang juga wabah penyakit melanda jemaah haji. (Red)