Beranda Pendidikan Geger Cilegon Dinilai Masih ‘Terlalu Pagi’, Haji Marjuki Pulang ke Mekah

Geger Cilegon Dinilai Masih ‘Terlalu Pagi’, Haji Marjuki Pulang ke Mekah

Para pemberontak Geger Cilegon 1888. (Istimewa)

Salah satu tokoh penting dan kontroversial dalam pemberontakan petani Banten atau yang dikenal dengan Geger Cilegon adalah salah satu murid Haji Abdul Karim yang bernama Haji Marjuki.

Haji Marjuki adalah warga Tanara, pengikut setia sekaligus murid kesayangan Haji Abdul Karim. Meski mukim di Mekah, Haji Marjuki sering mengunjungi Banten terutama sebelum pemberontakan Geger Cilegon meletus.

Catatan Snouck Hurgronje dalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888 karya Sartono, bahwa Haji Marjuki merupakan orang yang paling sering pulang ke tanah air di antara para alim ulama di Mekah. Dalam tahun 1858 ia untuk pertama kalinya pergi ke Mekkah menurut daftar-daftar jemaah haji ia kembali ke Mekah dalam tahun-tahun 1867, 1871, 1876 dan 1888.

Snouck juga mencatat bahwa Haji Marjuki tinggal di Banten di desa asalnya yaitu Tanara antara tahun 1874 dan 1876 dan dari bulan Maret 1887 sampai bulan Juni 1888.

“Tidak mengherankan jika Haji Wasid dan Kyai Haji Tubagus Ismail yang merupakan aktor intelektual Geger Cilegon menganggapnya sebagai seorang sekutu yang sangat kuat dan mereka memintanya dengan sangat agar ikut dalam gerakan pemberontakan 1888,” tulis Sartono.

Dalam catatan sejarah, suatu ketika dalam bulan Februari 1887 Haji Marjuki tiba di Batavia. Karena ia tidak memiliki paspor Haji Marjuki didenda 25 gulden.

Di Tanara ia sebagai guru agama. Ia juga menjual tasbih, Kitab Alquran dan benda-benda keagamaan lainnya yang ia bawa dari Mekah. Tidak lama kemudian ia mulai mengadakan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Banten, Tangerang, Batavia dan Bogor. Di tempat-tempat itu ia mempropagandakan gagasan tentang jihad melawan penjajah.

Karena mengatasnamakan Haji Abdul Karim, propagandanya dengan cepat diterima oleh umum dan tidak lama setelah kunjungan-kunjungannya itu nampak adanya semangat keagamaan yang meningkat. Masjid-masjid penuh dengan orang-orang yang melakukan ibadah.

Antusiasme rakyat menggelora dan semangat keagamaan dibakar oleh ramalan-ramalan akan tiba masa Perang Sabil dengan cara itu penduduk secara berangsur-angsur dipersiapkan untuk Jihad melawan kolonial.

“Haji Marjuki melanjutkan propagandanya dengan jihad dengan jalan mengunjungi para Kyai tarekat qadiriyah di Tangerang dan Batavia termasuk Haji Kasiman dari Tegal Kunir dan Haji Tamam dari Pakojan. Mereka siap mengirimkan murid-murid mereka sebagai sukarelawan ke Banten dalam usaha mempropagandakan jihad fisabilillah di luar Banten,” tulis Sartono.

Peran Haji Marjuki dan Haji Wasid, sering menimbulkan pertanyaan siapa di antara keduanya yang merupakan pemimpin gerakan Geger Cilegon. Pejabat-pejabat tertentu di Banten cenderung menganggap Haji Marjuki sebagai orang yang bertanggung jawab sepenuhnya atas gerakan pemberontakan Geger Cilegon.
Tetapi keberangkatannya yang mendadak sebelum pemberontakan meletus tidak sesuai dengan fungsi pemimpin utama dalam pemberontakan.

Argumentasi konsul Belanda di Jeddah menyatakan Haji Marjuki kembali di Mekah dalam bulan Agustus 1888 dan segera melanjutkan pekerjaan yang lama sebagai guru Nahwu atau tata bahasa Arab, Shorof atau sintaksis bahasa Arab dan Fiqih.

Dihadapan murid-murid yang mengikuti pelajarannya, Haji Marjuki tidak pernah merahasiakan prinsip-prinsip politiknya. Tidak ada indikasi sedikitpun bahwa ia seorang otak gerakan revolusioner di kalangan umat Islam di Indonesia.

Dalam catatan yang sama, Haji Marjuki juga dinilai tidak menghasut murid-muridnya agar memberontak dan melawan penguasa kolonial. “Malah ia mengecam keras pemberontakan yang dipimpin oleh Haji Wasid sebagai terlalu pagi dan menimbulkan korban jiwa yang sia-sia. Menurut pendapatnya setiap pemberontakan untuk dapat berhasil harus terorganisasi secara sistematik sehingga menjadi besar dan terjadi di seluruh Nusantara.”

Itulah mengapa, Haji Marjuki memilih hengkang dari Banten sebelum Geger Cilegon terjadi. Ia berselisih paham dengan Haji Wasid yang terlalu terburu-buru menentukan waktu pemberontakan tanpa kalkulasi dingin kekuatan senjata dan modal gerakan.

“Kaum pemberontak harus mempunyai uang dan senjata yang cukup. Atas dasar pendapat yang dikemukakan oleh Haji Marjuki ini timbul perselisihan yang tak dapat didamaikan antara dia dan Haji Wasid ketika diputuskan untuk memulai pemberontakan dalam bulan Juli 1888,” tulis Sartono.

Kepada sahabat-sahabatnya, Haji Marjuki menjelaskan bahwa tangan kanannya yang terkena penyakit saraf tidak memungkinkan untuk ikut aktif dalam perjuangan. Andaikata Ia tetap di Banten ia pasti akan menghadapi dilema dibunuh oleh serdadu-serdadu Belanda atau tidak berbuat apa-apa.

“Alasan lain kembali ke Mekah kenyataan bahwa istri dan anak-anaknya ada di sana. Itu juga menjadi alasan kuat untuk meninggalkan Banten.” (Red)