Beranda Pariwisata Gebrag Ngadu Bedug, Dentuman Tradisi Pandeglang yang Tak Lekang oleh Zaman

Gebrag Ngadu Bedug, Dentuman Tradisi Pandeglang yang Tak Lekang oleh Zaman

Event Gebrag Ngadu Bedug, Kabupaten Pandeglang

PANDEGLANG – Menjelang senja di Alun-alun Pandeglang, dentuman bedug bertalu-talu memecah udara. Irama yang saling bersahutan dari puluhan kelompok peserta menghadirkan suasana meriah yang mengundang perhatian masyarakat. Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ngadu bedug kembali menggema melalui event Gebrag Ngadu Bedug, sebuah perayaan budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Pandeglang, Banten.

Ngadu bedug bukan sekadar pertunjukan tabuhan alat musik tradisional. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang lahir dan tumbuh di tengah masyarakat Pandeglang sejak era 1970-an. Berbagai ukuran bedug dipukul secara harmonis, menciptakan komposisi ritmis yang menggambarkan semangat kebersamaan, gotong royong, dan identitas masyarakat setempat.

Bagi warga Pandeglang, ngadu bedug memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar hiburan. Tradisi ini kerap digelar menjelang Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha sebagai bagian dari syiar sekaligus ajang silaturahmi antarwarga kampung.

Tahun ini, semangat pelestarian budaya tersebut kembali diwujudkan melalui Gebrag Ngadu Bedug yang digelar di Alun-alun Pandeglang. Event ini menjadi panggung bagi para seniman dan masyarakat untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap budaya lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, menegaskan bahwa penyelenggaraan Gebrag Ngadu Bedug merupakan langkah nyata untuk menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan tontonan budaya, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Pandeglang. Terlebih, Gebrag Ngadu Bedug kini telah masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN), sehingga memiliki peran strategis dalam memperkenalkan budaya daerah ke tingkat yang lebih luas.

Apresiasi juga datang dari Erwita Dianti. Ia menilai Gebrag Ngadu Bedug memiliki daya tarik yang unik dibandingkan event budaya lainnya, terutama dari desain saung atau panggung yang menjadi bagian penting dalam pertunjukan.

Baca Juga :  Bupati Tatu Promosi Potensi Perikanan Lewat Serang Aquatic Festival

Di balik kemeriahan acara, puluhan kampung turut ambil bagian dalam menjaga denyut tradisi tersebut. Ketua Asosiasi Seniman Bedug Pandeglang, Endang Suhendar, menyebutkan sedikitnya 20 kampung mengikuti Gebrag Ngadu Bedug tahun ini. Mereka datang dari berbagai wilayah seperti Kampung Kabayan Masjid, Cicadas, Sukalimas, Carodok, Mandala, Salabentar, Cibeunying, Cilaja, Kadulimus, Kadukupa, Ciguludug, Cikiray, Kadugajah, Sanim, Sarkawana, Juhut, Jambu, Sorean, Cipacung, hingga Talaga.

Setiap kelompok membawa karakter tabuhan dan kreativitas masing-masing. Dari balik bedug-bedug besar yang disusun rapi di atas saung, para pemain menampilkan harmoni yang bukan hanya memanjakan telinga, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya lokal yang masih hidup dan berkembang.

Kehadiran sejumlah tokoh daerah dan nasional, termasuk Irna Narulita Dimyati dan Achmad Dimyati Natakusumah, semakin menegaskan pentingnya pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya Banten.

Di tengah gempuran budaya modern dan perkembangan teknologi yang terus berubah, dentuman bedug dari Pandeglang seolah mengirim pesan sederhana namun kuat: tradisi tidak boleh sekadar dikenang, melainkan harus terus dirawat dan diwariskan. Melalui Gebrag Ngadu Bedug, masyarakat Pandeglang membuktikan bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat istimewa di hati generasi masa kini.

Tim Redaksi