Beranda Opini Filsuf dan Politisi

Filsuf dan Politisi

Ilustrasi - foto istimewa

Filsuf dan Politisi

Oleh : Sulaiman Djaya, esais dan penyair

Di musim semi tahun 423 Sebelum Masehi, seorang dramawan sekaligus penyair kesukaan warga Athena merasa kesal karena ulah Sokrates yang terlampau terobsesi untuk menyelidiki yang baik dan yang benar secara rigorous dan rigid. Untuk mengekspresikan kekesalannya itu, sang dramawan dan penyair tersebut mementaskan sebuah drama berjudul The Clouds yang memang sengaja ia tulis sebagai karikatur-komikal untuk menyindir kelakuan sang filsuf.





Drama yang dipentaskan pada musim semi tahun 423 Sebelum Masehi itulah yang menjadi salah-satu motivator dan cikal-bakal tragedi Sokrates yang berakhir pada kematian dengan meminum racun cemara, sebab kala itu The Clouds bukan hanya  drama. Komedi karikatural drama yang langsung mendapatkan sambutan dan disukai banyak warga Athena itu telah mengalahkan tugas dan fungsi para orator untuk menampilkan sekaligus menyudutkan siapa sesungguhnya Sokrates. Dramawan dan penyair itu tak lain adalah Aristophanes.

Dan seperti kita maphumi bersama di kemudian hari, di pengadilan yang dihadiri 500 juri itu, Sokrates kalah 60 suara. 280 juri menyatakan ia bersalah dan 220 juri menyatakan ia tidak bersalah. Mungkin nasib Sokrates tidak akan berakhir pada kematian, seandainya ia menerima saran Polus, seorang orator yang memiliki pengaruh politik di kalangan para penguasa dan bangsawan Athena.

Singkatnya, Sokrates ternyata tak-sebijak anggapan Plato. Sokrates terlampau mendesakkan referensi dan preferensi-individual dan menolak opini publik. Dan ia terbukti kalah secara politik. Aristophanes sendiri menuduh Sokrates sebagai akar pemikiran yang berpihak pada diktatorisme hingga melahirkan para tiran karena mempercayai keputusan elitisme, sebuah
pandangan politik yang kelak dikembangkan Plato.

Sebenarnya masyarakat Athena sendiri tidak terlalu mempersoalkan apakah ajaran Sokrates
itu benar atau salah. Warga Athena hanya merasa terganggu dan tidak nyaman dengan
penampilan Sokrates yang tidak pernah memakai sandal dan sering mengenakan pakaian kusam di tengah masyarakat yang mengapresiasi penampilan dan keindahan. Dan ia menampik trend tersebut di saat ia sendiri tidak tampan dan menarik. Dengan kata lain,
Sokrates mengganggu citarasa estetik warga Athena. Belum lagi ulahnya yang sering
menolak commonsense, yang menyebabkan kebijaksanaannya tidak berarti di mata warga
Athena karena meremehkan penampilan.

Singkatnya, Sokrates tidak bijak secara politis, meski ia bijak dari segi ilmu pengetahuan. Tak
ragu lagi, itulah kegagalannya yang terbesar: membiarkan warga Athena menilainya
meremehkan hidup, keseharian, dan pendapat umum. Hingga Nietzsche menjulukinya filsuf
yang lupa pada dunia karena terlampau asyik mencari asal-usul. Tetapi pada konteks ini,
seorang politisi mendapatkan pelajaran yang sangat berharga: jika ingin memenangkan
dukungan publik, jangan meneladani Sokrates! Atau lupakan untuk sementara pendapat
dan keyakinan pribadi ketika pendapat dan keyakinan itu tidak mendapat dukungan publik
pada momen suksesi dan kontestasi. Setelah memenangkan kontestasi dan suksesi, bisa
diatur kemudian. Begitulah adagium para politisi.

Itulah sebabnya para ahli politik menilai Sokrates tidak sebijak Nabi Sulaiman yang dipercaya sebagai penulis Kitab Si Pengchotbah (Ecclesiastes): Segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu menanam, ada waktu memetik dan memanen. Ada saat memeluk, ada saat berpisah. Dan sekarang kita kembali lagi pada pengadilan Sokrates di Court of the Heliasts itu, sebuah tempat para orator berdebat. Kadang sebagai penuntut, kadang sebagai pembela. Lalu Sokrates yang sudah kalah di atas kertas karena gagal membentuk opini-publik harus berhadapan dengan Lycon sang orator, setelah sebelumnya tak mampu membendung pengaruh publik Aristophanes yang tengah digandrungi warga Athena. Lawan-lawan Sokrates mencakup lintas kelas dan profesi: penyair, politisi, dan para orator. Singkatnya, Sokrates melawan badai dan telah menyiapkan dirinya untuk dikambing-hitamkan pada saat Athena mengalami kekacauan politik dan menderita kalah perang.

Aristophanes sang dramawan, Meletus sang penyair, Anytus sang politisi, dan Lycon sang
orator menuduhnya sebagai perusak mental generasi muda. Dan mengajarkan keingkaran
pada dewa-dewa warga Athena. Bahkan pernah suatu ketika Aristophanes berkelakar untuk
menertawakan ajaran-ajaran Sokrates: Apakah kutu dapat melompat melampaui ukuran
tubuhnya? Apakah serangga bersuara lewat mulutnya ataukah lewat pantatnya?
Pembalikan pandangan commonsense melalui pertanyaan tersebut hanyalah sebuah arti
kebalikan yang ingin dikatakan Aristophanes: Jangan hanya ajari kami tentang yang baik dan
yang benar yang telah kami ketahui, tetapi ajarkanlah kepada kami apa yang berguna dalam kehidupan saat ini.

Mungkin karena metode dan gaya pembalikannya itulah Nietzsche menganggap
Aristophanes sebagai sang jenius, sementara Sokrates sebagai sang badut, yang terlampau
meneliti kehidupan tapi lupa pada hidup. Ia lebih mencintai apa yang dianggapnya sebagai
kebenaran, ketimbang mengafirmasi kehidupan. Pada konteks ini, Sokrates mestinya dilihat sebagai seorang dogmatis, tulis Nietzsche, bukan sang estetik dan sang artistik. (*)