Beranda Peristiwa Festival JW Surosowan Soroti Kebebasan Pers dan Transisi Energi Berkeadilan

Festival JW Surosowan Soroti Kebebasan Pers dan Transisi Energi Berkeadilan

Salah satu orator, Wahyu Arya dari BantenNews.co.id saat berorasi mengenai kondisi media saat ini yang ditekan banyak sisi. Dari sempitnya kebebasan pers hingga tekanan finansial perusahaan. Sabtu (8/8/2026).

SERANG – Jurnalis Warga (JW) Surosowan menggelar festival bertajuk “Orasi tentang Jurnalisme dan Transisi Energi Berkeadilan” di Rumah Dunia, Kota Serang, Sabtu (8/8/2026).

Festival tersebut mengangkat sejumlah isu, mulai dari kebebasan pers, keberpihakan media, hingga peran jurnalis dalam mengawal isu transisi energi yang berkeadilan.

Kegiatan ini digelar berkolaborasi dengan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dan Climateworks Foundation. Salah satu agenda utama festival adalah orasi mengenai kondisi media dan transisi energi berkeadilan yang melibatkan pekerja media, pegiat lingkungan, akademisi, lembaga bantuan hukum, serta kelompok masyarakat sipil.

Ukat Saukatudin dari JW Surosowan mengawali sesi orasi dengan menyoroti kondisi jurnalisme dalam meliput berbagai persoalan publik. Ia mengaitkan kebebasan pers dengan isu transisi energi, khususnya dalam pemberitaan mengenai konflik lahan, proyek energi, serta dampaknya terhadap masyarakat adat dan kelompok rentan.

Menurut Ukat, transisi energi berkeadilan tidak cukup hanya diukur melalui angka produksi listrik atau penurunan emisi. Pemerintah dan para pemangku kepentingan juga perlu memperhatikan kelompok yang menerima manfaat maupun masyarakat yang harus menanggung dampak dari proyek-proyek energi.

Pelibatan masyarakat adat dan kelompok rentan, kata dia, menjadi bagian penting dalam mengukur keberhasilan transisi energi.

Ia menilai keterbukaan informasi mengenai konflik dan dampak proyek energi membutuhkan pers yang bebas dari tekanan.

“Ketika kita berbicara tentang transisi energi yang berkeadilan, kita juga harus berbicara tentang jurnalisme yang merdeka. Sebab transisi energi membutuhkan transparansi, dan informasi yang independen membutuhkan jurnalis yang bebas dari intimidasi serta kekerasan,” ujar Ukat.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Azzumar Adhitia, turut menyoroti kondisi media saat ini.

Menurutnya, jurnalisme warga memiliki posisi penting dalam merekam kondisi di lapangan, terutama ketika media arus utama dinilai tidak selalu mampu menjangkau dan mengungkap konflik lingkungan secara utuh.

Baca Juga :  Sosok Misterius Tertangkap Kamera CCTV di Lampu Merah Cipocok Kota Serang

“Ketika media arus utama terjebak dalam industri budaya dan penataan persetujuan (manufacturing consent), maka di sinilah Jurnalis Warga mengambil alih garda depan. Kamera ponsel kalian, tulisan-tulisan kalian di media sosial, dan laporan langsung dari tapak konflik adalah media pencerahan yang sesungguhnya. Kalianlah yang merekam jeritan rakyat ketika kamera TV memilih berpihak pada modal dan kuasa,” ujarnya.

Sementara itu, Rizal Hakiki dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pijar membawa pembahasan transisi energi ke perspektif hak asasi manusia.

Ia mengatakan, transisi energi berkeadilan berkaitan erat dengan pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Ekosob).

“Hak Ekosob bagi masyarakat bukan sekadar hak, melainkan jaminan atas komitmen negara. Mulai dari mengambil langkah nyata, memaksimalkan sumber daya, mencapai perwujudan penuh secara bertahap, semua ini perlu dipenuhi,” ungkapnya.

Selain orasi, festival tersebut juga diisi dengan pameran foto mengenai transisi energi di Indonesia, khususnya di Banten.

Panggung seni menghadirkan pembacaan puisi oleh Qizink La Aziva, Toto ST Radik, dan UKM Belistra Untirta.

Sesi “Orasi Curhat Media” turut menghadirkan Wahyu Arya dari Bantennews, Ade Irawan dari Visi Integritas, Jule dari Lingkar Studi Feminisme, Mad Haer Efendi dari Pena Masyarakat, Deni Saprowi selaku Ketua Pokja Wartawan Banten, Nurholis Madjid dari WALHI Jakarta, serta perwakilan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara.

Festival JW Surosowan kemudian ditutup dengan penampilan musik dari Gesbica UIN Banten.

Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman Temposo