Beranda Pariwisata Festival Cikolelet: Saat Tradisi, Wayang, dan Potensi Desa Bertemu di Satu Panggung

Festival Cikolelet: Saat Tradisi, Wayang, dan Potensi Desa Bertemu di Satu Panggung

Mendes PDT Yandri Susanto didampingi Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyerahkan penghargaan. (Istimewa)

KAB. SERANG – Malam di Alun-alun Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Jumat (28/8/2026) kemarin tidak sekadar menghadirkan hiburan. Ribuan warga berkumpul menyaksikan pentas seni tradisional dan pagelaran wayang kulit Giri Harja Putra 2 dalam Festival Cikolelet ke-6.

Di tengah riuh penonton, masyarakat Cikolelet kembali menunjukkan cara mereka menjaga tradisi: bukan sekadar menyimpan budaya sebagai cerita masa lalu, tetapi membawanya ke ruang publik dan menghubungkannya dengan kehidupan ekonomi warga.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto melihat festival tersebut sebagai upaya mempertahankan kearifan lokal sekaligus mengangkat potensi ekonomi desa.

“Festival ini luar biasa dan membanggakan untuk mempertahankan kearifan lokal. Ada potensi desa yang diangkat, ada BUMDes, ada Ngaguradano, ada macam-macam yang ditampilkan,” kata Yandri.

Bagi Yandri, budaya tidak berhenti pada panggung pertunjukan. Ketika festival menarik warga dan wisatawan, pelaku UMKM mendapat ruang untuk berjualan dan masyarakat memperoleh peluang ekonomi.

“Dengan digelarnya festival, UMKM akan tumbuh berkembang dan pendapatan masyarakat akan meningkat,” ujarnya.

Di sela festival, Yandri juga menyoroti penggunaan media sosial. Ia meminta masyarakat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kegiatan positif, bukan menyebarkan hoaks dan fitnah.

Yandri bahkan menyinggung pengalaman dirinya yang menjadi sasaran konten manipulasi berbasis AI. Konten tersebut, menurut dia, memuat pernyataan yang tidak pernah ia sampaikan.

“Misalkan menyebarkan berita hoaks, berita fitnah, berita yang menyerang orang tanpa data, itu sangat merugikan bangsa ini,” tegasnya.

Ia meminta masyarakat menggunakan media sosial secara bertanggung jawab karena ruang digital juga dapat menjadi sarana mempromosikan potensi desa.

Enam Tahun Menjaga Tradisi

Festival Cikolelet bukan agenda yang muncul sekali lalu hilang. Desa Cikolelet telah menggelarnya enam kali sejak 2020.

Baca Juga :  Sejarah Gunung Krakatau yang Meletus Dahsyat Hingga Jadi Destinasi Wisata

Kepala Desa Cikolelet Ojat Darojat mengatakan konsistensi tersebut menjadi cara masyarakat mempertahankan tradisi yang telah mengakar di desa.

“Artinya masyarakat Cikolelet tetap konsisten dalam upaya pelestarian tradisi budaya yang mengakar di Desa Cikolelet,” kata Ojat.

Cikolelet sendiri masuk kategori desa wisata sejak 2017. Desa itu juga mengantongi sertifikat kearifan lokal dari Kementerian Pariwisata. Modal tersebut mendorong pemerintah desa mengembangkan pariwisata tanpa meninggalkan identitas budaya.

“Ini modal dasar kita untuk mengembangkan inovasi di Desa Cikolelet. Walaupun ada kendala, kita tetap fokus pada pengembangan desa wisata melalui konsep tradisi budaya,” ujarnya.

Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah menilai, Cikolelet telah menjadi salah satu contoh pengembangan desa wisata di Kabupaten Serang.

Menurutnya, kekuatan Cikolelet terletak pada keberagaman potensi yang masyarakat kelola secara konsisten. Festival menjadi ruang untuk mempertemukan seni tradisional, pariwisata, dan aktivitas ekonomi warga.

Pentas Rampak Bendrong Lesung hingga Wayang Golek Giri Harja Putra 2 menjadi bagian dari upaya masyarakat merawat warisan leluhur.

“Penyelenggaraan Festival Cikolelet tidak hanya menyajikan hiburan masyarakat, tetapi juga memperkuat fondasi kebudayaan daerah,” kata Ratu Zakiyah.

Ia menilai, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Karena itu, Pemkab Serang mendorong warga menjaga keramahan, keamanan, dan kebersihan agar wisatawan mendapat pengalaman yang baik saat berkunjung.

Bagi Cikolelet, festival bukan hanya soal panggung dan keramaian. Di balik pertunjukan tradisional, warga sedang mempertahankan identitas sekaligus mencari cara agar budaya tetap hidup dan memberi manfaat ekonomi bagi desa.

Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah