Beranda Peristiwa Festival Anak Pancasila Jadi Ruang Tanamkan Toleransi dan Nilai Kebangsaan

Festival Anak Pancasila Jadi Ruang Tanamkan Toleransi dan Nilai Kebangsaan

Festival Anak Pancasila 2026 yang digelar Yayasan Rumah Anak Pancasila (RAP) di Alun-Alun Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Sabtu (20/6/2026).

TANGSEL – Di tengah meningkatnya tantangan sosial yang dihadapi generasi muda, mulai dari perundungan, intoleransi hingga pengaruh negatif media digital, Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah menegaskan pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila sejak usia dini.

Pesan itu disampaikan Dimyati saat membuka Festival Anak Pancasila 2026 yang digelar Yayasan Rumah Anak Pancasila (RAP) di Alun-Alun Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Sabtu (20/6/2026).

Dalam sambutannya, Dimyati menekankan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat, beriman, toleran, dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.

“Anak-anak harus memiliki keimanan kepada Tuhan, memiliki rasa kemanusiaan, menghargai perbedaan, memahami demokrasi, dan menjunjung tinggi keadilan sosial. Itulah fondasi untuk membangun Indonesia yang lebih baik,” kata Dimyati.

Menurutnya, pendidikan karakter tidak dapat ditunda dan harus menjadi perhatian bersama, baik oleh pemerintah, sekolah maupun keluarga. Ia menilai nilai-nilai Pancasila masih relevan menjadi pedoman dalam membentuk generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas kebangsaannya.

Dimyati menjelaskan, sila pertama Pancasila menjadi fondasi utama dalam membangun karakter anak. Dari nilai ketuhanan tersebut kemudian tumbuh sikap kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku, agama, bahasa dan budaya. Karena itu, generasi muda harus dibekali pemahaman tentang pentingnya persatuan sejak dini.

“Agama berbeda, suku berbeda, warna kulit berbeda, tetapi kita adalah satu keluarga besar dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita adalah sebangsa dan setanah air,” ujarnya.

Selain penguatan nilai kebangsaan, Dimyati menilai anak-anak perlu diberikan ruang untuk berkembang dan mengekspresikan potensi yang dimiliki. Menurutnya, penghargaan terhadap hak anak untuk berpartisipasi dan berkreativitas merupakan bagian dari implementasi nilai demokrasi.

Baca Juga :  Fakta Unik Kota Serang: Menyingkap Keunikan Ibu Kota Provinsi Banten

“Kita harus menjaga, melindungi, membimbing, dan menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. Mereka adalah penerus bangsa yang kelak akan menentukan masa depan Indonesia,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota MPR RI Marinus Gea menyebut kegiatan yang dilakukan Rumah Anak Pancasila merupakan bentuk investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Menurut Marinus, pembangunan karakter generasi muda menjadi pekerjaan strategis yang tidak kalah penting dibanding pembangunan infrastruktur fisik.

“Saya melihat apa yang dilakukan oleh Rumah Anak Pancasila bukan sekadar kegiatan budaya atau kegiatan seremonial tahunan. Rumah Anak Pancasila sedang melakukan investasi kebangsaan. Mereka sedang membangun manusia Indonesia dan menanamkan karakter kebangsaan kepada generasi yang kelak akan memimpin Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, MPR RI dan Rumah Anak Pancasila memiliki misi yang sama dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Perbedaannya terletak pada pendekatan yang digunakan.

Jika MPR RI menjalankan tugas tersebut melalui sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dan pendekatan konstitusional, Rumah Anak Pancasila melaksanakannya melalui pendidikan karakter, seni budaya, dialog lintas agama, serta berbagai kegiatan sosial.

“Artinya, MPR RI membangun kesadaran bangsa melalui pendekatan konstitusional, sedangkan Rumah Anak Pancasila membangun kesadaran kebangsaan melalui pendekatan kultural dan sosial,” katanya.

Festival Anak Pancasila 2026 mengusung tema “Lima Rasa, Selaras dalam Satu Jiwa”. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenal dan mempraktikkan nilai-nilai Pancasila melalui seni, budaya, permainan edukatif, serta interaksi lintas agama dan latar belakang sosial.

Di tengah menguatnya polarisasi sosial dan derasnya arus informasi digital, penyelenggara berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana menanamkan semangat toleransi, gotong royong, dan kebersamaan kepada generasi muda.

Turut hadir dalam kegiatan itu Ketua Pembina Rumah Anak Pancasila Panda Nababan, Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Darmansjah Djumala, Ketua Yayasan Rumah Anak Pancasila Juan Alexander Wake, tokoh masyarakat, pegiat pendidikan, serta ratusan peserta dari berbagai wilayah.

Baca Juga :  Prajurit Baret Merah Ziarah ke Taman Makam Pahlawan Ciceri

Festival Anak Pancasila menjadi salah satu upaya mendorong pendidikan karakter di luar ruang kelas, dengan harapan nilai-nilai kebangsaan tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku sehari-hari anak-anak Indonesia.

Tim Redaksi