Beranda Peristiwa Faktor Ekonomi dan Judol Picu Tingginya Angka Perceraian di Pandeglang

Faktor Ekonomi dan Judol Picu Tingginya Angka Perceraian di Pandeglang

Humas Pengadilan Agama Pandeglang Azhar Nur Fajar Alam (kiri). (Memed/bantennews)

PANDEGLANG – Jumlah kasus perceraian di Kabupaten Pandeglang masih tinggi, di mana salah satu penyebabnya yaitu faktor ekonomi dan judi online (judol).

Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Pandeglang, hingga September 2025 terdapat 1.198 gugatan cerai masuk. Mayoritas penggugat cerai dari pihak perempuan.

Humas PA Pandeglang, Azhar Nur Fajar Alam mengatakan, berdasarkan umur kasus perceraian usia 15 tahun sampai 24 tahun sebanyak 119 orang, usia 25 tahun sampai 34 tahun sebanyak 562 orang, usia 35 tahun sampai 44 tahun sebanyak 255 orang, usia 45 tahun sampai 54 tahun sebanyak 53 orang dan di atas usia 55 tahun sebanyak 12 orang.

Kata dia, pada 2024 jumlah perkara perceraian di bawah usia 34 tahun mencapai 808 kasus, sementara tahun ini turun menjadi sekitar 700 perkara. Kebanyakan perkara perceraian di dominasi oleh pasangan dengan usia pernikahan di bawah 10 tahun.

“Untuk 2025 ini, pernikahan di bawah 5 tahun sudah ada 350 perkara perceraian. Sementara di bawah 10 tahun ada 362 perkara,” katanya, Sabtu (20/9/2025).

Adapun faktor atau penyebab utama perceraian diantaranya masalah ekonomi, perselingkuhan, dan judi online.

Jika dihitung dari tahun 2020 sampai 2025, perkara perceraian rata-rata 1.400 per tahun dan sekitar 80-90 persen penggugat adalah istri.

“Perceraian itu pilihan terakhir. Tugas kami bukan hanya memutus perkara, tapi juga merukunkan pasangan melalui nasihat dan mediasi,” ungkapnya.

PA Pandeglang juga menggandeng Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Dinas Sosial, hingga Disdukcapil untuk memberikan edukasi soal pernikahan kepada masyarakat.

Dirinya berpesan agar pasangan muda harus lebih siap secara mental dan ekonomi sebelum menikah agar tidak mudah berakhir dengan perceraian.

Baca Juga :  279 Juta Data Pribadi Diduga Bocor, Polisi Panggil Dirut BPJS Kesehatan

Sebab, kata dia, pernikahan bukanlah perkara yang mudah sehingga mental dan emosi harus benar-benar matang.

“Setiap keluarga pasti ada masalah jangan sampai persoalan kecil dibesar-besarkan hingga merusak rumah tangga. Khususnya bagi pasangan muda, kesiapan ekonomi dan psikologis sangat penting sebelum memutuskan menikah,” pesannya.

Penulis : Memed
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd