Beranda Peristiwa Erupsi GAK Buat Ratusan Nelayan Pandeglang Berhenti Melaut

Erupsi GAK Buat Ratusan Nelayan Pandeglang Berhenti Melaut

Dua petahu nelayan tertambat di dermaga di Carita, Pandeglang. (Mg-Madani Prasetia/bantennews)

PANDEGLANG — Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) membuat ratusan nelayan di pesisir Pandeglang menahan kapal di darat. Mereka memilih tidak melaut karena khawatir keselamatan dan hasil tangkapan menurun.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pandeglang, Encep Wa’as, mengatakan sebagian besar nelayan Carita hingga Labuan menghentikan aktivitas melaut sejak GAK kembali erupsi.

“Waktu GAK erupsi, sekitar empat hari nelayan sama sekali tidak melaut. Sekarang juga masih banyak yang memilih berhenti melaut karena dampaknya masih terasa,” kata Encep saat dihubungi, Selasa (15/9/2026).

Menurut Encep, aktivitas vulkanik diduga membuat ikan menjauh dari wilayah tangkapan. Nelayan pun khawatir sudah mengeluarkan biaya operasional, tetapi pulang tanpa hasil.

“Kalau laut terkena getaran, ikan itu sensitif, jadi menjauh. Nelayan khawatir melaut tapi hasilnya tidak ada,” ujarnya.

Kondisi laut juga semakin ramai dengan operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak Speedboat Arupadhatu I yang hilang di Selat Sunda. Kapal Basarnas, TNI AL, Polairud, dan unsur lainnya masih bergerak mencari korban.

“Di laut sekarang banyak kapal operasi dari Basarnas, TNI AL, Polairud, dan unsur lainnya. Nelayan juga memilih tidak melaut dulu,” kata Encep.

Ia memperkirakan ratusan kapal nelayan di kawasan Carita hingga Labuan ikut berhenti beroperasi. Kapal kursin, arad, dan berbagai kapal tangkap lainnya ikut terdampak.

“Ratusan kapal tidak melaut. Dampaknya sangat terasa bagi ekonomi nelayan karena mereka kehilangan penghasilan harian,” ujarnya.

Nelayan kini menghadapi tekanan ganda. Mereka kehilangan pemasukan karena tidak bisa melaut, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

Encep meminta pemerintah turun tangan membantu keluarga nelayan yang terdampak. Ia berharap pemerintah menyalurkan beras atau sembako selama nelayan belum bisa kembali mencari nafkah di laut.

Baca Juga :  Angin Kencang, Pohon Tumbang di Cinangka Tutup Akses Jalan

“Kalau memang nelayan belum bisa melaut, kami berharap ada bantuan beras atau sembako untuk ketahanan pangan nelayan,” katanya.

Hingga kini, nelayan belum mendapat kepastian kapan aktivitas melaut kembali normal. Mereka masih menunggu kondisi GAK lebih aman.

Kecemasan nelayan juga meningkat akibat informasi yang berseliweran di media sosial. Encep menyebut kabar yang belum terverifikasi ikut memicu kepanikan.

“Isu-isu di media sosial seolah-olah akan ada bencana besar. Walaupun hoaks, itu tetap memengaruhi psikologis nelayan,” ujarnya.

Sebagian nelayan bahkan memilih mengungsi ke wilayah yang lebih tinggi, termasuk Menes dan kawasan perbukitan. Mereka khawatir erupsi besar terjadi ketika berada di tengah laut.

“Masih ada nelayan yang mengungsi ke Menes dan daerah perbukitan. Mereka takut kalau tiba-tiba terjadi bencana saat berada di laut,” pungkasnya.

Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd