Beranda Peristiwa Enam Tahun di Huntara, Korban Banjir Bandang Lebak Menanti Kepastian

Enam Tahun di Huntara, Korban Banjir Bandang Lebak Menanti Kepastian

Seorang lansia warga huntara Cigobang, Lebak, berjalan menyusuri deretan hunian sementara. (Sandi/bantennews)

LEBAK – Enam tahun sudah warga Lebakgedong, Kabupaten Lebak, korban banjir bandang tinggal di hunian sementara (huntara) di Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong.

Para penyintas bencana yang meluluhlantakkan rumah mereka hanya bisa pasrah menunggu janji pemerintah yang akan membangun hunian tetap (huntap). Bahkan, semlah orang penting telah menyambangi warga baik dari pusat, Gubernur Banten hingga Bupati Lebak.

Namun, janji tinggal janji, hingga enam tahun lamanya pembangunan huntap tidak pernah terlaksana.

Seperti yang dialami Cici (40), bersama sang suami Raman dan keempat anaknya harus rela bertahan hidup di dalam tenda yang beralaskan tanah dan berdindingkan terpal, serta atap yang terbuat dari anyaman daun sagu selama enam tahun.

Diketahui, rumah Cici rusak parah akibat diterjang banjir bandang pada awal tahun 2020 silam. Air yang bercampur lumpur telah merobohkan rumahnya, serta mengubah kehidupan ratusan warga lainnya.

Saat ini Cici bersama keluarga harus tinggal di Huntara, tanpa adanya kejelasan dari pemerintah.

“Sudah enam (tahun) saya bersama warga lainnya tinggal di huntara. Pemerintah yang menjanjikan akan membangun Huntap. (Tapi) hingga saat ini tidak ada kepastian dan kapan akan direalisasikan,” kata Cici dengan nada sedih.

Ia mengatakan, pada masa Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, warga dijanjikan semua korban banjir bandang akan dibangunkan huntap. Namun, hingga berganti Bupati huntap yang dijanjikan tersebut tidak kunjung dibangun.

“Beda dengan warga korban banjir bandang yang berada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Yang telah menempati huntap dengan fasilitas jalan yang bagus serta air bersih yang cukup. Padahal korban banjir bandang Lebakgedong dan Bogor di waktu yang sama menjadi korban banjir bandang,” ujarnya.

Baca Juga :  BPK Temukan Dugaan Penyelewengan Belanja BOS SMA/SMK di Banten

Huntara yang ditempati sejak enam tahun lalu kini kondisinya sudah mulai rusak pada bagian atap dan dindingnya. Bahkan, saat hujan turun tenda yang ditempati tidak luput dari kebocoran, sehingga anak-anak harus tidur kedinginan.

“Suami yang bekerja sebagai buruh serabutan tidak mampu untuk memperbaiki tenda yang kondisinya sudah rapuh. Jangankan untuk memperbaiki tenda, untuk kehidupan sehari-hari saja kita kekurangan,” ucapnya.

Ia menambahkan, semua warga korban banjir bandang masih menggantungkan harapan pada janji relokasi ke Huntap.

Namun hingga kini, pembangunan Huntap sama sekali belum ada kejelasannya.

“Kami hanya ingin kepastian, bukannya janji-janji saja seperti janji orangtua kepada anaknya yang akan membelikan mainan tapi tidak kunjung dibelikan,” ujar Cici.

“Enam tahun bukan waktu yang singkat Bagi para korban banjir bandang. Waktu telah menghabiskan kesabaran, namun belum memadamkan harapan kami, dibalik dinding Huntara yang rapuh ini, kami terus menunggu satu hal yang sederhana, bisa pulang ke rumah yang layak, aman dan benar-benar bisa disebut rumah,” sambungnya.

Ia meminta pemerintah tidak hanya mengumbar janji manis kepada warga korban banjir bandang.

“Cobalah Pemerintah jangan mempermainkan kami dengan janji-janji yang tidak pasti, kami butuh kepastian. Kami sudah bosan hidup di tenda Huntara dengan segala kepalsuan omongan dari pemerintah,” katanya.

Penulis : Sandi Sudrajat
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd