Beranda Peristiwa Enam Mahasiswa Untirta yang Hilang di Pulosari Mendaki Tanpa Izin

Enam Mahasiswa Untirta yang Hilang di Pulosari Mendaki Tanpa Izin

Mahasiswa Untirta yang hilang kontak di Gunung Pulosari ditemukan dan dievakuasi. (Memed/bantennews)

PANDEGLANG – Yayasan Balaputra Salakanagara selaku pihak yang pertama kali membuka jalur pendakian melalui rute Cihunjuran menyatakan bahwa enam orang mahasiswa Untirta yang sempat hilang kontak di Gunung Pulosari merupakan pendaki ilegal.

Ketua Yayasan Balaputra Salakanagara, Cakra Widiantara mengatakan, selain tidak ada konfirmasi pada Perhutani atau lembaga yang ditunjuk mengelola jalur pendakian, enam orang ini naik melalui jalur yang belum resmi dibuka untuk umum.

“Pendaki dari arah Cihunjuran tapi mereka melakukan pendakian ilegal artinya tanpa izin, harusnya siapapun yang masuk wilayah Perhutani harus dapat izin dari Perhutani atau lembaga yang ditunjuk untuk mengelola itu. Kami mendapat informasi 7 pendaki turun dan 6 itu tertinggal, celakanya mereka pun tidak membawa peralatan camping, kedua mereka juga amatir,” kata Cakra, Selasa (13/11/2018).

Cakra menjelaskan, sebenarnya bulan Agustus 2018 Yayasan Balaputra Salakanagara dari divisi kepariwisataan bersama Perhutani dan Wanadri membuka perintisan jalur baru yang kemarin digunakan oleh para mahasiswa, namun jalur tersebut belum dibuka karena masih ada rekomendasi dari Wanadri yang belum dilakukan.

“Karena banyaknya animo pendaki ke Pulosari yang tidak bisa naik karena jalur Cilentung ditutup, akhirnya kami menemukan jalur baru tapi bisa dibuka dengan 12 catatan dan 12 catatan itu belum dijalankan, artinya belum dibuka karena track itu belum layak karena kemungkinan tersesatnya banyak karena jalurnya memecah, jadi banyak jalur yang tidak layak dilalui. Kami membuka jalur track family yang bisa dilalui oleh amatir ataupun profesional dan itu track belum dibuka resmi karena rekomendasinya belum dijalankan, contohnya di persimpangan harus ada penunjuk jalan, terus kedua di atas tidak boleh pakai camping karena perlu antena anti petir soalnya di situ rawan petir,” sambungnya.

Sementara itu KRPH Pulosari Nanang menegaskan, Perhutani hingga saat ini belum membuka jalur pendakian yang berada di Cilentung, alasannya ada retakan tanah yang sewaktu-waktu bisa longsor dan membahayakan pendaki. Selain itu Perhutani juga belum mendapatkan surat resmi dari BPBD dan BNPB untuk membuka jalur pendakian.

“Pihak perhutani jadi kawasan hutan untuk sementara masih ditutup, sehubungan belum ada pemberitahuan dari BPBD dan BNPB kami belum menerima pemberitahuan itu jadi kamu belum berani, jadi kondisinya masih ditutup,” tegasnya. (Med/Red)