
LEBAK – Di sebuah kampung sederhana di wilayah Kabupaten Lebak, dentingan kayu pemukul emping terdengar hampir setiap hari. Irama itu menjadi penanda aktivitas ekonomi warga Kampung Pasir Cadas, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, yang sejak puluhan tahun lalu menggantungkan hidup dari olahan emping melinjo.
Di balik kesederhanaan proses tradisional itu, tersimpan cerita perjuangan dan ketekunan warga dalam membangun usaha rumahan yang kini mampu menembus pasar luar negeri.
Salah satu pelakunya adalah Nurlaila, perempuan paruh baya yang sudah 25 tahun berkecimpung dalam dunia produksi emping melinjo. Berawal dari skala kecil di rumahnya, kini usahanya menjadi sentra produksi yang melibatkan para tetangga sekitar.
“Sejak tahun 2001 saya mulai membuat emping melinjo. Awalnya hanya sedikit, sekarang alhamdulillah sudah banyak yang membantu, semuanya tetangga sendiri,” ujar Nurlaila.
Setiap hari, sekitar satu kwintal buah melinjo diolah secara manual. Prosesnya tetap mempertahankan cara tradisional — mulai dari merebus biji melinjo, menumbuknya hingga pipih, lalu dijemur di bawah terik matahari.
Hasil emping tersebut kemudian dipasarkan ke berbagai daerah, seperti Rangkasbitung, Jakarta, hingga Bandung. Sebagian pembeli bahkan datang langsung ke tempat produksi untuk mengambil dalam jumlah besar.
Tak hanya pasar lokal, permintaan dari luar negeri pun mulai berdatangan melalui pengepul dan distributor.
“Sekarang emping sudah bisa sampai ke luar negeri. Itu yang bikin kami semangat terus produksi,” kata Nurlaila dengan wajah sumringah.
Harga emping melinjo saat ini mencapai Rp60 ribu per kilogram, meningkat dibandingkan harga normal yang biasanya berkisar Rp45 ribu hingga Rp50 ribu.
“Kenaikan karena bahan baku melinjo lagi mahal, jadi harga emping ikut naik,” jelasnya.
Namun, kenaikan harga itu justru membawa angin segar bagi para pekerja di kampung tersebut.
Salah satunya Nurhayati, warga sekitar yang sehari-hari membantu proses produksi emping.
“Alhamdulillah, tiap hari bisa dapat upah sekitar Rp35 ribu. Kalau pesanan banyak, bisa lebih,” ucapnya.
Bagi Nurhayati dan warga lainnya, usaha emping melinjo bukan sekadar pekerjaan, melainkan sumber penghidupan yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus pergi jauh merantau.
Kini, emping melinjo khas Lebak bukan hanya dikenal sebagai camilan tradisional, tetapi juga simbol kemandirian ekonomi warga desa. Dari halaman rumah sederhana, produk lokal ini mampu bersaing di pasar luas, bahkan hingga mancanegara.
Cerita Kampung Pasir Cadas menjadi bukti bahwa industri rumahan, jika dikelola dengan konsisten dan penuh semangat, mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat dari akar rumput.
Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo