Beranda Peristiwa Ekskavasi di Banten Lama Temukan Jejak Jalur Masuk Cornelis de Houtman Abad...

Ekskavasi di Banten Lama Temukan Jejak Jalur Masuk Cornelis de Houtman Abad ke-16

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII melakukan peninjauan dan ekskavasi di sebuah lokasi yang diduga sebagai jalur masuk Cornelis de Houtman ke Banten pada tahun 1596 - Foto istimewa

SERANG – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII melakukan peninjauan dan ekskavasi di sebuah lokasi yang diduga sebagai jalur masuk Cornelis de Houtman ke Banten pada tahun 1596. Kegiatan ini menjadi upaya penting dalam menyingkap jejak sejarah perdagangan dan interaksi global Nusantara di masa lalu.

Mengutip instagram BPK Wilayah VIII pada Jumat (26/9/2025), ekskavasi dilakukan di sekitar Sungai Cibanten, yang pada abad ke-16 hingga ke-17 berperan sebagai pintu masuk utama ke Kota Banten. Dari catatan penulis Belanda, Lodewijk (1598), kawasan ini dikenal sebagai “Pabean”, sebuah titik di muara barat sungai yang menjadi jalur perdagangan internasional.

BPK Wilayah VIII menjelaskan bahwa kegiatan ini juga berfokus pada pemetaan toponim Pabean di lengan barat Sungai Cibanten. Kawasan tersebut kemungkinan besar berada di sekitar Benteng Speelwijk, benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1682–1683 di sudut barat laut tembok Kota Banten.

Ekskavasi ini memperkuat hipotesis bahwa jalur tersebut merupakan akses penting bagi kapal-kapal asing memasuki Banten, yang kala itu menjadi pusat perdagangan maritim internasional.

Tiga Gerbang Masuk Kota Banten

Dalam catatan sejarah, Kota Banten dapat dimasuki melalui tiga pintu:

Gerbang air (De Water Poort)

Gerbang darat (De Landt Poort)

Gerbang bukit (De Bergh Poort)

Setiap gerbang dijaga pejabat setingkat tumenggung yang bertanggung jawab atas keamanan kota. Catatan ini menegaskan posisi strategis Banten sebagai kota pelabuhan kosmopolitan.

Sekitar 300 meter dari Benteng Speelwijk, tim menemukan indikasi jejak aktivitas kepabeanan berupa fondasi bata persegi panjang, pecahan gerabah, keramik, fragmen besi, dan mata uang logam. Di seberang sungai, catatan sejarah menyebut adanya kluster kios pedagang Tionghoa.

Lebih jauh ke barat, di sekitar Vihara Avalokitesvara, juga ditemukan pecahan keramik, tembikar, dan tanda kubur Tionghoa. Temuan ini memperkuat dugaan adanya kawasan permukiman sekaligus pasar Pecinan yang terhubung langsung dengan jalur perdagangan melalui Sungai Cibanten.

Baca Juga :  Budaya Larung Meriahkan Festival Pesisir di Kabupaten Tangerang

Kawasan Pabean ini kini dikenal sebagai Dermayon. Di tempat inilah, para peneliti menduga pernah berdiri struktur besar, termasuk reruntuhan Masjid Pacinan Tinggi. Dengan demikian, ekskavasi tidak hanya membuka jalur masuk Cornelis de Houtman, tetapi juga menyingkap kehidupan multikultural yang tumbuh di Banten pada masa kejayaannya.

Tim Redaksi