Beranda Bisnis Ekonomi Banten Tumbuh 5,49 Persen, Lampaui Nasional

Ekonomi Banten Tumbuh 5,49 Persen, Lampaui Nasional

Kepala BI Perwakilan Banten Sofwan Kurnia. (Adef/bantennews)

SERANG – Ekonomi Provinsi Banten tumbuh 5,49 persen secara tahunan (yoy) pada Triwulan II 2026. Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.

Kinerja ekonomi Banten mendapat dorongan dari permintaan domestik, industri pengolahan, investasi, konstruksi, dan perdagangan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Sofwan Kurnia menyampaikan capaian tersebut dalam Taklimat Media Triwulan II 2026 bertema “Ekonomi Banten Tetap Solid, Prospek Pertumbuhan Terjaga”, Senin (10/8/2026).

Sofwan mengatakan, ekonomi Banten tumbuh 5,49 persen secara tahunan atau 1,24 persen secara kuartalan (qtq). Secara kumulatif, ekonomi Banten pada Semester I 2026 tumbuh 5,57 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Banten pada Triwulan II 2026 menunjukkan bahwa fondasi pertumbuhan ekonomi Banten tetap kuat dan luas. Industri terus menguat, konstruksi berakselerasi, sementara permintaan domestik tetap menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi,” ujar Sofwan.

Pertumbuhan Triwulan II 2026 memang melambat dibandingkan Triwulan I yang mencapai 5,64 persen. Namun, Bank Indonesia menilai perlambatan tersebut masih berada dalam fase normalisasi pertumbuhan.

Sofwan menjelaskan, tingginya pertumbuhan pada Triwulan I mendapat dorongan dari momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Perlambatan pada Triwulan II belum menunjukkan adanya perubahan fundamental terhadap kondisi ekonomi Banten,” katanya.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi Banten. Sektor tersebut menyumbang 30,36 persen terhadap struktur ekonomi daerah dan tumbuh 4,87 persen secara tahunan.

Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,09 persen. Sektor tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Banten dengan andil 2,81 poin persentase.

Investasi turut mencatat pertumbuhan positif. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,39 persen secara tahunan.

Realisasi investasi Banten pada Triwulan II 2026 mencapai Rp31,89 triliun. Angka itu tumbuh 7,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Jelang Lebaran, BI Banten Siapkan Rp2,7 Triliun Uang Pecahan

Sepanjang Semester I 2026, realisasi investasi Banten mencapai Rp66,3 triliun. Capaian tersebut menempatkan Banten di peringkat kelima nasional.

Banten juga menyumbang sekitar 6,67 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 3,86 persen terhadap perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Banten tetap tumbuh positif pada Triwulan III 2026. Peningkatan belanja masyarakat, pertumbuhan kredit perbankan, keberlanjutan proyek konstruksi, serta pembayaran proyek menjadi sejumlah faktor yang menopang prospek tersebut.

Kredit perbankan di Banten tumbuh 6,84 persen secara tahunan. Kredit investasi mencatat pertumbuhan paling tinggi dengan kenaikan 14,66 persen.

Risiko kredit juga masih terkendali. Rasio kredit bermasalah atau NPL tercatat 2,92 persen.

Dari sisi ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banten pada Mei 2026 turun menjadi 6,48 persen. Penurunan tersebut beriringan dengan bertambahnya sekitar 57 ribu penduduk yang bekerja.

Namun, kualitas lapangan kerja masih menjadi perhatian. Proporsi pekerja formal di Banten baru mencapai 48,99 persen.

Sofwan mengatakan Bank Indonesia juga mencermati pergeseran sebagian tenaga kerja formal menuju sektor informal dan pertanian. Sejauh ini, pergeseran tersebut belum menunjukkan dampak terhadap peningkatan risiko kredit perbankan.

“Perkembangan tersebut tetap dicermati dengan melihat keterkaitan pendapatan pekerja dengan akses layanan perbankan dan pembiayaan,” ujarnya.

Sementara itu, tekanan harga di Banten relatif terkendali. Pada Juli 2026, Banten mencatat deflasi 0,22 persen secara bulanan (mtm), sedangkan inflasi tahunan mencapai 2,49 persen dan inflasi tahun kalender 1,19 persen.

Peningkatan pasokan bawang merah dan aneka cabai, penurunan harga emas perhiasan, serta implementasi Program Sekolah Gratis turut mendorong kondisi inflasi tetap terkendali.

Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd