
SERANG — Cuci darah sempat membuat Safei (50), warga Kampung Babakan, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, diliputi ketakutan. Namun, sejak menjalani hemodialisis pada 2017, ia menjadikan terapi itu sebagai rutinitas untuk mempertahankan hidup dan tetap bersama keluarga.
Safei harus menjalani cuci darah dua kali sepekan akibat gagal ginjal. Pada awal pengobatan, berbagai cerita tentang cuci darah membuatnya menganggap terapi tersebut menakutkan dan seolah tidak memberi harapan.
Pandangan itu berubah setelah ia menjalaninya sendiri.
“Lama-kelamaan terbiasa, jadi saya jalani saja demi menjaga badan tetap bugar dan sehat. Setelah saya jalani, ternyata biasa saja ya,” ujar Safei.
Selama bertahun-tahun menjalani hemodialisis, Safei mengaku kondisi tubuhnya relatif baik. Ia juga merasa nyaman menjalani pengobatan di Rumah Sakit Kartini.
Menurut Safei, rumah sakit memberikan pelayanan tanpa membedakan status kepesertaan BPJS Kesehatan. Sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), ia tetap mendapat pelayanan yang ramah.
“Pelayanan di Rumah Sakit Kartini baik dan tidak ada perbedaan apa-apa. Bahkan bagi saya pelayanannya sudah seperti keluarga, ramah melayaninya jadi kita merasa nyaman,” katanya.
Case Manager Rawat Inap Rumah Sakit Kartini, Suhartini, mengatakan pihaknya menangani pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan dan kebutuhan medis.
“Alhamdulillah kami tidak membeda-bedakan. Semuanya kami tangani sesuai dengan tingkat kegawatdaruratan pasien dan pelayanan yang kami berikan,” kata Suhartini.
Bagi Safei, keberadaan BPJS Kesehatan sangat penting. Ia kini tidak memiliki penghasilan tetap sehingga sulit membiayai pengobatan secara mandiri.
“Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, mungkin saya sudah tidak tahu harus bagaimana. Karena sekali berobat saja kisaran Rp2 juta. Bagi saya itu angka yang besar dan tidak sanggup kalau harus bayar sendiri,” ungkapnya.
Kondisi penyakit ginjal kronis membuat Safei harus menjaga kesinambungan terapi. Rumah sakit pun terus memberikan dukungan agar pasien tetap menjalani hemodialisis sesuai kebutuhan medis.
“Kami memberikan pelayanan yang terbaik supaya mendukung proses penyembuhan penyakit untuk pasien-pasien dengan CKD. Harapannya pasien-pasien cuci darah tetap semangat menjalani cuci darahnya di sini,” ujar Suhartini.
Safei mengatakan, kepesertaan BPJS Kesehatan yang aktif membuatnya tidak perlu memikirkan biaya cuci darah dan obat yang berkaitan dengan pelayanan tersebut.
“Selama saya berobat pakai kartu BPJS Kesehatan tidak ada biaya tambahan obat apa pun. Semua biaya cuci darah gratis karena pakai kartu BPJS Kesehatan yang aktif,” katanya.
Rutinitas cuci darah dua kali sepekan membuat Safei semakin memahami manfaat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ia membayangkan beratnya beban keluarga jika harus membayar seluruh biaya pengobatan sendiri.
“Kalau tidak ada program BPJS Kesehatan, tidak kebayang sulitnya bagaimana untuk membayar. Bisa stres saya mengumpulkan biayanya, apalagi ini harus rutin seminggu dua kali,” ujarnya.
Safei juga menyadari keberlangsungan program JKN membutuhkan gotong royong seluruh peserta. Karena itu, ia berterima kasih kepada masyarakat yang tetap membayar iuran BPJS Kesehatan.
“Saya berterima kasih banget kepada peserta yang aktif melakukan pembayaran iuran BPJS Kesehatan. Manfaatnya terasa banget untuk warga yang tingkat ekonominya seperti saya,” ucap Safei.
Bagi Safei, BPJS Kesehatan bukan sekadar kartu. JKN memberinya kesempatan untuk terus menjalani pengobatan, menghadapi gagal ginjal, dan tetap berkumpul bersama keluarga.
Ia berharap program JKN terus hadir bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Harapannya BPJS Kesehatan ini harus selalu ada, karena sangat membantu saya dan keluarga. Untuk mendapatkan uang sebesar itu rasanya tidak mungkin, apalagi saya juga harus menghidupi keluarga,” pungkasnya.
Advertorial