SERANG – Tumpukan sampah rumah tangga masih menjadi persoalan yang sulit dihindari di banyak permukiman. Namun, di Balai Kelurahan Kasemen, Kota Serang, puluhan warga justru belajar melihat sampah dari sudut pandang berbeda.
Sampah dapur yang selama ini berakhir di tempat pembuangan ternyata bisa diolah menjadi kompos, sementara aktivitas pengelolaannya dapat dipantau melalui pencatatan digital sederhana.
Gagasan itu dibawa tim dosen dan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar akhir pekan kemarin. Kegiatan tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa dari Program Studi Teknik Industri, Teknik Kimia, dan Informatika.
Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari warga, pengurus RT/RW, hingga kader lingkungan mengikuti pelatihan yang tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik mengolah sampah organik menggunakan komposter aerob manual.
Tim Untirta juga mengenalkan sistem pencatatan berbasis digital agar warga dapat mendokumentasikan aktivitas pengelolaan sampah secara lebih teratur dan berkelanjutan.
Dalam rilis tertulis yang disampaikan ke BantenNews.co.id, Jumat (24/7/2026), Lurah Kasemen, Etik Saefulloh menilai perubahan pola pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga. Menurutnya, kebiasaan memilah dan mengolah sampah dari sumbernya dapat mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat mendorong masyarakat untuk mulai membiasakan memilah dan mengolah sampah dari rumah masing-masing. Jika dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan, saya yakin lingkungan Kelurahan Kasemen akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman,” katanya.
Bagi sebagian peserta, pelatihan tersebut membuka wawasan baru. Selama ini mereka terbiasa membuang sampah dapur tanpa mengetahui bahwa limbah organik memiliki nilai manfaat.
“Saya baru tahu kalau sampah dapur ternyata bisa diolah menjadi kompos. Selama ini kami langsung membuangnya, padahal bisa dimanfaatkan untuk tanaman di rumah. Penjelasannya mudah dipahami dan bisa langsung dipraktikkan,” ujar salah seorang peserta.
Ketua Tim Pengabdian Untirta, Ayu Puspa Wirani, mengatakan program tersebut dirancang agar mudah diterapkan masyarakat dengan memanfaatkan alat sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Harapannya, masyarakat dapat menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan, dimulai dari rumah masing-masing. Dengan dukungan teknologi sederhana, kegiatan ini diharapkan dapat terus dipantau dan dikembangkan oleh warga,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, tim Untirta menyerahkan komposter serta tempat sampah yang dibuat dari galon bekas kepada warga. Bantuan itu menjadi langkah awal agar peserta tidak berhenti pada pelatihan, tetapi langsung mempraktikkan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
Program yang mendapat dukungan Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026 itu menunjukkan peran kampus tidak hanya berhenti di ruang kelas. Melalui kolaborasi dengan masyarakat, dosen dan mahasiswa mencoba menghadirkan solusi sederhana untuk persoalan lingkungan yang dihadapi setiap hari.
Tim Redaksi
