Beranda Sosial Diskusi Bersama Penyair Kayseri di #Komentar

Diskusi Bersama Penyair Kayseri di #Komentar

Suasana diskusi #komentar. (Foto : ist)

 

SERANG – Diskusi bertajuk “Menulis dan Kontemplasi menuju Tuhan” berjalan lancar Minggu (3/2/2019) di Markas #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa), Kp. Pasar Burak, Ds. Singarajan, RT 04 RW 01, Kec. Pontang.

Penulis tamu yang diundang sebagai narasumber kali ini adalah Dr. Hifdi Ridho, S.Fil.I., MA., alumnus Erciyes University, Kayseri-Turki. Menurut Hifdi, menulis adalah sebuah tanggung jawab besar yang disematkan dan dipahatkan ke dalam pribadi penulis, baik kesadaran individual maupun sosial. Beliau memberikan arahan kepada peserta yang hadir agar karya yang ditulis punya tujuan mau dibawa ke arah mana, terutama menuju Tuhan.

“Seorang penulis membutuhkan kontemplasi (keheningan, moksa), yakni dengan cara mencari, menciptakan objek itu sebagai awal masuk ke dalam pengalaman estetik para penulis agar mampu menemukan kata telos ‘sampai pada/ujung’ atau sampai pada katarsis, kesucian,” tambah lelaki berkacama itu.

Peserta yang hadir pada diskusi #Komentar berjumlah sebelas orang. Menurut Encep, selaku pendiri komunitas, jumlah demikian tergolong banyak karena biasanya ketika diksusi karya yang hadir hanya dua-tiga orang meski sebagian peserta yang hadir pada sore itu adalah anak remaja. Diskusi ini dilakukan untuk yang kesekian kali sebagai penambah wawasan anggota #Komentar.

“Beberapa di antaranya menyimak dengan baik. Sebagiannya, terutama anak SMA, tampak kebingungan karena bahasa Pak Hifdi memang agak berat. Apalagi beliau lulusan dan dosen filsafat,” tambah Encep.

Meskipun demikian, menurut Encep, diskusi tetap berjalan hangat karena sesekali narasumber yang lahir di tanah Pontang ini juga memberikan edukasi dan moral keislaman kepada peserta. Pada akhir makalah, Dr. Hifdi memberikan pesan bahwa tidak banyak jalan menuju Tuhan bagi seseorang yang mecintai kesunyian kecuali dengan jalan cinta.

“Cinta adalah pendakian kerohanian atau spiritual tertinggi dalam dunia sufi. Cintalah yang menjadi medan kreatif dan jalan kedekatan, keintiman antara manusia dengan Tuhannya dengan ekspresi puisi yang termanifestasikan. Seperti cintanya rumi, bukan cinta biasa, tetapi cinta yang terbalas,” tambah lelaki asal Kebuyutan itu. (You/Red)

Temukan Berita BantenNews.co.id di Google News