
SERANG — Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Banten mendorong elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung–Serang–Cilegon–Merak agar operasional KRL Commuter Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung dapat diperpanjang hingga Merak. Langkah ini diharapkan dapat memangkas transit antarkereta bagi pengguna layanan rel di rute tersebut.
Saat ini perjalanan dari Stasiun Tanah Abang menuju Rangkasbitung telah dilayani KRL, sedangkan relasi Rangkasbitung menuju Serang hingga Merak masih mengandalkan KA Lokal. Akibatnya, penumpang dari kawasan barat Banten menuju Jakarta maupun sebaliknya harus berpindah rangkaian di Stasiun Rangkasbitung.
Sebagai tindak lanjut, Dishub Banten menyusun studi kelayakan elektrifikasi lintas Rangkasbitung–Merak sebagai bahan pertimbangan usulan kepada pemerintah pusat. Langkah ini diambil karena Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 baru mengamanatkan pembangunan jalur ganda tanpa mencakup sarana elektrifikasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dishub Banten, Endad Haryanto, menyatakan elektrifikasi jalur ini penting untuk mengintegrasikan jaringan rel Jabodetabek dengan Banten barat.
“Tujuan utama studi ini adalah menyiapkan dokumen kelayakan dari aspek teknis, ekonomi, finansial, lingkungan, hingga kelembagaan. Ini merupakan dokumen kesiapan yang disyaratkan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan,” ujar Endad dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).
Kajian tersebut mencatat kebutuhan investasi sekitar Rp1,29 triliun. Melalui elektrifikasi, kapasitas angkut relasi tersebut diproyeksikan melonjak dari 9.900 orang menjadi 18.000 penumpang per hari.
Urgensi perpanjangan layanan KRL ke arah Merak diperkuat oleh pola perjalanan pengguna KA Lokal Merak. Survei Dishub Banten mendapati 95 persen penumpang KA Lokal Merak terhubung langsung dengan sistem KRL Jabodetabek. Sebarannya meliputi tujuan atau asal Cikarang (33 persen), Rangkasbitung (27 persen), Bogor (16 persen), Tanjung Priok (11 persen), dan Tangerang (8 persen). Hanya 5 persen yang tercatat sebagai penumpang rute lokal murni Rangkasbitung–Merak.
Konstruksi elektrifikasi diusulkan berlangsung bertahap, dimulai dari segmen Rangkasbitung–Serang sebelum diteruskan ke Cilegon dan Merak, sekaligus diselaraskan dengan proyek jalur ganda lintas terkait.
Di sisi lain, operasional KA Lokal Merak tetap disiapkan guna menyokong mobilitas warga Banten selatan. Dalam dokumen studi kelayakan, Dishub mengusulkan penambahan frekuensi perjalanan KA Lokal Merak dari 14 menjadi 18 perjalanan per hari.
Pengembangan fasilitas penunjang turut menjadi perhatian, meliputi area depo atau penyimpanan kereta (stabling), kenyamanan peron stasiun, integrasi antarmoda, hingga peningkatan keselamatan pada perlintasan sebidang. Fasilitas stabling baru diusulkan memanfaatkan depo eksisting di Rangkasbitung atau membuka titik baru di kawasan Cihideung, Cipocok Jaya, maupun Banjaragung.
Hasil kajian ini segera diserahkan ke kementerian terkait agar proyek elektrifikasi dapat masuk dalam prioritas pembangunan nasional demi konektivitas langsung kawasan barat Banten ke Jabodetabek.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Wahyudin