SERANG – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang terus menggencarkan upaya menekan angka Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) melalui program pelatihan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pada 2026, fokus pembinaan diarahkan pada pelatihan kerja seperti barista hingga perbengkelan agar masyarakat rentan memiliki peluang usaha mandiri.
Kepala Dinsos Kota Serang, Kusna Ramdani, mengatakan pihaknya baru saja menggelar pelatihan barista yang diikuti 50 peserta. Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan sertifikat resmi, tetapi juga praktik langsung bersama narasumber profesional dari tingkat provinsi.
“Kami hadirkan barista asli sebagai narasumber dari provinsi. Mereka membawa peralatan lengkap dan memberikan biji kopi gratis kepada peserta agar bisa langsung praktik di rumah,” ujar Kusna usai diskusi bersama Pokja Wartawan Kota Serang (PWKS) di Ergana Caffe, Kamis (21/5/2026).
Tak hanya sektor kuliner, Dinsos Kota Serang juga tengah bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk menggelar pelatihan perbengkelan bagi masyarakat binaan. Tahun ini, Pemprov Banten menyediakan kuota 40 peserta yang dibagi untuk delapan kabupaten/kota di Banten, dan Kota Serang mendapatkan jatah awal tiga peserta.
“Hari ini kami mengirimkan tiga orang untuk mengikuti pelatihan perbengkelan dari provinsi. Anggarannya memang dari provinsi, sedangkan peserta dibagi dari tiap daerah,” jelasnya.
Meski demikian, Kusna mengakui jumlah kuota tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal di lapangan. Pihaknya bahkan sempat mengusulkan tambahan kuota agar lebih banyak masyarakat bisa mengikuti pelatihan keterampilan.
“Kami berharap bisa mendapat lima sampai sepuluh peserta. Namun karena harus dibagi rata untuk delapan daerah, sementara ini baru tiga orang. Tapi program ini dilakukan bertahap,” katanya.
Kusna menegaskan, peserta pelatihan dipilih melalui proses penjangkauan dan asesmen humanis oleh petugas sosial di lapangan, bukan melalui razia. Petugas mendatangi langsung masyarakat rentan di jalanan maupun lingkungan sekitar untuk diajak berdialog dan diberikan pembinaan.
“Ini bukan razia. Kami melakukan penjangkauan langsung, mengajak bicara baik-baik, lalu menawarkan pelatihan keterampilan agar mereka punya bekal usaha,” tuturnya.
Menurutnya, seleksi peserta dilakukan secara ketat karena program tersebut menggunakan anggaran negara yang harus dipertanggungjawabkan. Dinsos ingin memastikan bantuan alat kerja yang diberikan benar-benar dimanfaatkan untuk usaha, bukan dijual kembali.
“Kami harus selektif agar niat baik dan tenaga yang kami keluarkan tidak sia-sia. Ada alumni pelatihan sebelumnya yang usahanya berkembang pesat. Alat kerjanya masih lengkap, bahkan bertambah. Kalau ada kekurangan peralatan, terkadang kami bantu fasilitasi lagi,” paparnya.
Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, Dinsos Kota Serang juga melibatkan Petugas Pendamping Sosial (Peksos) di setiap kecamatan untuk melakukan monitoring rutin terhadap perkembangan usaha para alumni pelatihan.
“Pendamping sosial rutin turun ke lapangan, minimal seminggu sekali. Mereka memantau perkembangan usaha anak-anak binaan kami dan melaporkannya lewat dokumentasi foto,” ujarnya.
Penulis: Ade Faturohman
Editor: Usman Temposo
