Beranda Kesehatan Dinkes Banten Waspadai Lonjakan Penyakit Kulit Akibat Kekeringan

Dinkes Banten Waspadai Lonjakan Penyakit Kulit Akibat Kekeringan

Kepala Dinkes Banten Ati Pramudji Hastuti.

SERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mewaspadai peningkatan penyakit kulit di tengah kekeringan dan keterbatasan air bersih. Perubahan tren penyakit muncul saat kasus ISPA yang sempat melonjak akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai menurun.

Berdasarkan data Dinkes Provinsi Banten, kasus penyakit kulit sempat mencapai 664 kasus pada 11 September, sebelum turun menjadi 328 kasus per 16 September.

Untuk kasus ISPA turun dari 7.015 kasus pada 7 September 2026 menjadi 2.756 kasus per 16 September 2026. Dinkes juga mencatat 82 kasus sakit mata.

Kepala Dinkes Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, penurunan kasus ISPA mulai terlihat sejak pertengahan pekan lalu. Namun, kekeringan menghadirkan persoalan baru karena warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk menjaga kebersihan sehari-hari.

“Kalau ISPA progresnya seminggu kemarin sempat mengalami peningkatan, tapi mulai hari Rabu sudah terjadi penurunan. Namun yang meningkat di era kekeringan ini justru penyakit kulit. Hal ini berhubungan dengan sulitnya air bersih yang tidak terakomodir dengan baik untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Ati, Senin (21/9/2026).

Ati menyebut, penambahan kasus penyakit kulit sempat mencapai sekitar 100 kasus dalam sehari. Kondisi tersebut mendorong Dinkes memperluas penanganan yang sebelumnya berfokus pada ISPA dan iritasi mata.

“Dalam sehari penambahannya (saat itu) bisa sampai 100 orang. Jika sebelumnya konsentrasi utama kita ke ISPA dan iritasi mata, sekarang kita juga fokus menangani penyakit kulit,” jelasnya.

Dinkes Banten tetap membuka fasilitas pelayanan kesehatan selama 24 jam untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan abu vulkanik. Ati menekankan peran puskesmas sebagai layanan kesehatan primer yang mudah dijangkau masyarakat.

“Sampai hari ini kita masih siagakan 24 jam fasilitas pelayanan kesehatan, terutama layanan kesehatan primer seperti Puskesmas agar mudah diakses masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga :  Dinkes Lebak: Kasus HIV Capai 788 Orang, Rangkasbitung Tertinggi

Dinkes Banten juga mengerahkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ke permukiman warga. Petugas mendatangi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan, memberikan pengobatan langsung, dan menyampaikan edukasi kesehatan.

Ati mengatakan, langkah tersebut menyasar warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan primer.

“Bagi warga yang tidak bisa mengakses layanan kesehatan primer, kita lakukan jemput bola untuk pemeriksaan dan pengobatan langsung, disertai dengan edukasi kesehatan,” tuturnya.

Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd