Beranda Advertorial Dinkes Banten Sosialisasi Penyakit Tidak Menular di Hadapan Kader Kelurahan

Dinkes Banten Sosialisasi Penyakit Tidak Menular di Hadapan Kader Kelurahan

Caption: Dinas Kesehatan Provinsi Banten menggelar sosialisasi penyakit tidak menular (PTM) di sejumlah daerah. Salah satu titik sosialisasi dengan sasaran Kader Kelurahan Kalitimbang, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon pada 27 Mei 2021 lalu.. (IST)

SERANG – Dinas Kesehatan Provinsi Banten menggelar sosialisasi penyakit tidak menular (PTM) di sejumlah daerah. Salah satu titik sosialisasi dengan sasaran Kader Kelurahan Kalitimbang, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon pada 27 Mei 2021 lalu.

Kegiatan tersebut dalam rangka pencegahan dan pengendalian PTM di Provinsi Banten. Kadinkes Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, PTM dikenal sebagai penyakit kronis dengan durasi yang panjang dan proses penyembuhan yang umumnya lambat. Semua kelompok usia dan semua wilayah di dunia berisiko terkena PTM.

Peserta sosialisasi penyakit tidak menular yang digelar Dinkes Banten. (IST)

“Sebanyak 80% kasus penyebab kematian PTM berada di negara berpenghasilan menengah dan rendah,” kata Ati kepada wartawan, Selasa (26/10/2021).

Adanya peningkatan pesat kasus PTM, diprediksi akan menghambat upaya penanggulangan kemiskinan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sebab, pemerintah akan dipaksa memprioritaskan biaya pelayanan kesehatan untuk penderita PTM.

“Beban yang diakibatkan oleh penyakit tidak menular antara lain meningkatnya kematian prematur dan disabilitas, yang akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kependudukan serta berperan pada pertumbuhan ekonomi negara,” katanya.

Lanjutnya, untuk mengurangi dampak PTM pada masyarakat perlu dilakukan pendekatan komprehensif yang mengharuskan keterkaitan semua sektor termasuk kesehatan, pembiayaan, pendidikan, pertanian, perencanaan, termasuk dukungan dari luar negeri dan penguatan system kesehatan nasional.

“Upaya efektif dan efisien dibutuhkan sehingga dampak PTM dapat diatasi. Upaya tersebut mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dan atau paliatif,” katanya.

“Upaya tersebut diharapkan dapat dilakukan secara proporsional, untuk upaya preventif difokuskan pada pengendalian faktor risiko melalui deteksi dini faktor risiko PTM diikuti dengan tindak lanjut dini bila didapatkan kondisi PTM yang memerlukan tatalaksana lebih lanjut,” katanya.

Pada kondisi PTM yang memerlukan upaya kuratif, rehabilitative dan paliatif diperlukan sistem kesehatan yang siap baik sarana, prasarana maupun tenaga Kesehatan.

Oleh karenanya, pelaksanaan kegiatan Sosialisasi PTM di masyarakat adalah salah satu upaya dalam pencegahan dan pengendalian PTM di Provinsi Banten.

“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan serta meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular sedini mungkin,” katanya.

Peserta yang mendapat sosialisasi PTM diharapkan dapat menggerakkan masyarakat terutama memotivasi keluarga yang usia 15 – 59 tahun, agar mau melakukan pemeriksaan deteksi dini.

“Faktor risiko Penyakit Tidak Menular di posbindu dan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada disekitarnya,” katanya. (ADV)