
SERANG– Dinas Pertanian Provinsi Banten mengaku belum menerima laporan resmi mengenai dampak pencemaran Sungai Ciujung yang menghitam terhadap lahan pertanian warga di Kabupaten Serang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Banten Nasir mengatakan hingga saat ini pihaknya belum memperoleh informasi dari jajaran penyuluh pertanian maupun Dinas Pertanian Kabupaten Serang terkait kerusakan tanaman atau terganggunya aktivitas pertanian akibat kondisi sungai tersebut.
“Memang saya belum dapat laporan. Yang saya tahu wilayah situ sedang direhab Pamarayan dengan Ciujung, sehingga beberapa wilayah terdampak airnya. Tapi kita sudah koordinasi jangan sampai petani juga tertahan, lambat tanam segala macam, karena target luas tambah tanam (LTT) tiap hari harus kita laporkan,” kata Nasir di Gedung Negara Banten, Senin (22/6/2026).
Sejauh ini kata Nasir, ia hanya mengetahui persoalan gangguan pasokan air yang terjadi di sejumlah wilayah saat ini lebih berkaitan dengan proyek rehabilitasi jaringan irigasi yang sedang dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC3).
Nasir mengatakan persoalan tersebut belum pernah dibahas dalam rapat koordinasi terakhir yang melibatkan pemerintah daerah dan penyuluh pertanian. Karena itu, pihaknya akan melakukan pengecekan lebih lanjut ke lapangan.
“Nanti kita coba cek. Insyaallah nanti kita cek,” kata dia.
Sedangkan Gubernur Banten, Andra Soni mengatakan akan segera memanggil Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) terkait persoalan tersebut. “Nanti, saya mau panggil dulu kadisnya,” kata Andra Singkat.
Sebelumnya, hamparan persawahan di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang terdampak air Sungai Ciujung yang tercemar. Pantauan BantenNews.co.id di lokasi, Kamis (18/6/2026), air yang mengalir ke saluran irigasi tampak menghitam dan berbusa. Kondisi tersebut terlihat di beberapa petak sawah yang berada di kawasan itu.
Roni (58) buruh tani di Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang mengakui memang air sungai menghitam itu masuk ke sawah karena jadi sumber irigasi warga. Selain sawah yang terdampak, tanaman kacang panjang yaag ia tanam dekat sekali dengan aliran sungai juga juga terdampak. Akibatnya hasil tanamannya itu kerap busuk.
“Udah dirugikan oleh tanaman, baunya menyengat ke mana-mana. Ya tau lah baunya seperti apa,” ujarnya.
“Kemaren-kemaren jangankan buat mandi, buat cuci tangan aja enggak berani. Waktu kemarin airnya masih bagus lah ya, diminum juga masih bisa tapi begitu saya ambil buat dimasak seduh kopi, batuk saya enggak berhenti-berhenti,” sambungnya.
Selain sawah, dampak cemaran itu juga dirasakan oleh usaha cuci steam motor di Kampung Jongjing, Desa Cerukcuk, Kecamatan Tanara.
Ahmad Khotib, pekerja cuci steam motor yang berlokasi di dekat Jembatan Pelangi Jongjing, mengaku tempat usahanya sudah tutup selama dua pekan sejak air Sungai Ciujung kembali menghitam.
Menurut Ahmad, usaha cuci steam tempatnya bekerja selama ini mengandalkan pasokan air dari Sungai Ciujung. Namun, karena air kini tercemar dan berbau menyengat, air tersebut tidak lagi layak digunakan.
“Ya harus gimana lagi, paling masyarakat kecil mah diem aja. Mau gimana lagi. Enggak ada pemasukan, baru ini paling nambal ban,” kata Ahmad saat ditemui, Kamis (18/6/2026).
Untuk tetap memperoleh penghasilan, Ahmad kini membantu pekerjaan tambal ban di bengkel yang berada di samping lokasi usaha cuci steam. Di sisi lain, ia juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pengeboran sumur guna mendapatkan sumber air bersih.
“Terpaksa, keluar duit lagi,” keluhnya.
Ahmad menuturkan, pencemaran Sungai Ciujung yang ditandai air menghitam dan bau menyengat bukanlah kejadian pertama. Menurutnya, kondisi tersebut hampir terjadi setiap tahun dan selalu berdampak pada masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
Selain kehilangan akses air bersih dan harus membeli air galon atau membuat sumur bor, warga juga terganggu oleh bau menyengat yang kerap terasa hingga malam hari. “Ya cape sebetulnya, lelah,” ujarnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi