Beranda Komunitas Digelar Besok, GUSDURian Serang Raya Kupas Kolonialisme Papua Lewat Nobar Pesta Babi

Digelar Besok, GUSDURian Serang Raya Kupas Kolonialisme Papua Lewat Nobar Pesta Babi

Pamflet kegiatan Nobar Film dan Diskusi yang digelar komunitas GusDurian Serang Raya. (Istimewa)

SERANG — Komunitas GUSDURian Serang Raya menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di Padepokan Kupi, Kaloran, Kota Serang, Sabtu (25/4/2026) beeok. Forum ini mengangkat isu sensitif, yakni praktik kolonialisme modern dan konflik agraria di Papua.

Panitia menghadirkan nobar ini bukan sekadar tontonan, tetapi ruang kritik sosial. Peserta diajak membedah relasi kuasa, perebutan lahan, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat adat.

Diskusi menyoroti praktik penggusuran dan pengambilalihan tanah di Papua yang kerap terjadi atas nama pembangunan.

Kondisi itu menempatkan masyarakat adat dalam posisi rentan dan menggeser hubungan kultural yang telah terbangun turun-temurun.

Para pemantik mengulas persoalan tersebut melalui perspektif politik agraria dan hukum adat. Mereka menilai kekuasaan sering membentuk legitimasi penguasaan lahan tanpa melibatkan masyarakat sebagai subjek utama.

Penggerak GUSDURian Serang Raya, Ali Martua Nasution menegaskan, kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kritis publik terhadap realitas sosial yang terus berlangsung.

“Kegiatan ini kami hadirkan sebagai ruang membaca ulang realitas. Kolonialisme tidak hilang, tetapi bertransformasi dalam praktik hari ini. Kami ingin mendorong keberpihakan pada masyarakat terdampak,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Peserta tidak hanya menyaksikan film, tetapi juga aktif berdiskusi. Forum ini menjadi wadah pertukaran gagasan sekaligus penguatan kepedulian terhadap isu keadilan sosial dan kemanusiaan.

Penyelenggara berharap kegiatan ini memperdalam pemahaman publik tentang konflik agraria dan posisi masyarakat adat di Papua, sekaligus menumbuhkan sikap kritis terhadap arah pembangunan.

Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah