Beranda Peristiwa Diduga Belokkan Aliran Sungai Cikalumpang, Proyek Disetop Usai Diprotes Warga dan Tokoh

Diduga Belokkan Aliran Sungai Cikalumpang, Proyek Disetop Usai Diprotes Warga dan Tokoh

Kondisi Sungai Cikalumpang< Kadubereum, Padarincang, Kabupaten Serang yang diuruk oleh pengembang alias yayasan. (Ist)

KAB. SERANG — Rencana pembangunan kawasan yayasan pendidikan di Desa Kadubeurem, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, menuai protes keras dari masyarakat dan tokoh daerah.

Proyek yang digarap oleh pihak Yayasan Cinta Diri Sejati tersebut dipersoalkan lantaran diduga membelokkan aliran alami Sungai Cikalumpang serta melakukan penebangan pohon di bantaran sungai tanpa kelengkapan izin resmi.

Kekhawatiran warga memuncak mengingat aliran Sungai Cikalumpang merupakan urat nadi vital bagi sektor pertanian dan pasokan air baku di wilayah sekitar. Perubahan kontur sungai secara sepihak dikhawatirkan memicu kerusakan ekosistem dan mengancam sumber penghidupan masyarakat di kawasan hilir.

Tokoh Pendiri Provinsi Banten, KH Embay Mulya Syarief, yang meninjau langsung ke lokasi mengaku terkejut mendapati bentang alam sungai telah diubah dan pepohonan di sekitarnya ditebang. Ia mengingatkan bahwa kerusakan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikalumpang dapat berdampak sistemik hingga ke kawasan industri Cilegon.

Tokoh masyarakat Banten KH Embay Mulya Syarief.

“Di hilir itu ada sekitar 1.000 hektare sawah yang mengandalkan aliran sungai ini. Airnya juga mengalir ke Rawa Danau lalu dipompa ke Cilegon untuk kawasan industri. Jadi kalau sungai ini dirusak, dampaknya luar biasa,” ujar KH Embay saat ditemui di Wisata Alam Kampoeng 165, Minggu (30/8/2026).

Embay menegaskan, meski masyarakat terbuka terhadap investasi yang mendorong ekonomi lokal, setiap aktivitas fisik wajib mengantongi izin resmi dan tidak menabrak aturan perlindungan lingkungan hidup. Ia mendesak seluruh kegiatan di lokasi dihentikan sebelum menimbulkan kerugian sosial yang lebih luas.

“Manusia tidak akan mati kalau tidak punya emas, tapi manusia akan mati kalau tidak ada air. Bagaimana mau bicara pertanian dan ketahanan pangan kalau airnya tidak ada? Selesaikan dulu izin-izinnya. Kalau pemerintah tidak mengizinkan, ya tidak bisa berjalan,” tegas Embay.

Baca Juga :  Doa-Doa yang Tak Usai di Kampung Cibetus Padarincang

Merespons gelombang protes dan kekhawatiran masyarakat, pihak pengembang akhirnya memutuskan untuk membatalkan pengerjaan fisik sedimentasi buatan tersebut hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan itu diambil usai digelarnya rapat evaluasi bersama warga dan tokoh setempat.

Juru Bicara Yayasan Cinta Diri Sejati, Eko Budianto, membantah anggapan bahwa proyek tersebut sengaja membelokkan aliran sungai secara ekstrem. Menurutnya, pengerjaan di tepi sungai awalnya dirancang untuk membuat struktur sayap penahan guna memecah debit air agar tidak menggerus tanggul irigasi yang mulai tererosi.

“Prinsipnya bukan dibelokkan, tapi kita bikin sayap. Supaya ketika debit air besar tidak langsung menghantam irigasi yang ada karena sudah mulai terkikis. Jadi debit air terbagi dua dan tidak langsung merusak tanggul awal,” jelas Eko.

Meski demikian, Eko mengakui proses perizinan teknis belum tuntas sepenuhnya dan baru sebatas pemberitahuan ke pihak desa serta sosialisasi awal di tingkat kecamatan. Pihak yayasan menyatakan siap memulihkan rona bentang alam jika hasil kajian akhir merekomendasikan pembatalan proyek secara permanen.

“Kaitan dengan izin dan prosedur ke arah sana nanti akan menjadi bahan kajian kita bersama. Jika dari hasil evaluasi dan kajian yayasan memutuskan dibatalkan secara total (full), maka area yang sempat dikerjakan akan kami kembalikan ke kondisi asal,” pungkas Eko.

Tim Redaksi