
PANDEGLANG – Potret pilu itu tersaji di Kampung Caringin Lor, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Di rumah yang berdinding bilik, beratapkan genting dan rumbia serta nyaris roboh tinggal Yeni Farifa (40) bersama suami dan tiga anakanya.
Setiap hujan turun, ketakutan menyelimuti keluarga Yeni. Atap rumah bilik bambu yang rapuh bocor di banyak titik, sementara sebagian rangkanya nyaris ambruk.
Demi menghindari bahaya, Yeni, suami, dan tiga anaknya kerap mengungsi ke rumah tetangga. Di rumah sederhana yang mereka tempati selama lima tahun terakhir, keluarga ini berjuang menghadapi kemiskinan tanpa pernah merasakan bantuan sosial pemerintah.
Rumah berdinding bilik bambu itu semakin memprihatinkan sejak setahun terakhir. Genteng dan atap rumbia mulai runtuh, membuat air hujan bebas masuk ke dalam rumah.
Saat malam diguyur hujan deras, keluarga tersebut tidak lagi merasa aman bertahan di dalam rumah.
“Sudah sekitar lima tahun tinggal di sini. Rumah rusaknya sudah setahun. Mau diperbaiki juga tidak punya biaya. Suami kerja serabutan, untuk biaya berobat anak saja sudah berat,” kata Yeni, Senin (3/8/2026).
Di balik perjuangan mempertahankan tempat tinggal, keluarga ini memikul beban yang jauh lebih berat. Putri bungsu mereka, Adibah (7), mengidap anemia berat dan harus menjalani transfusi darah setiap bulan di rumah sakit di Kota Serang agar kondisinya tetap stabil.
Seluruh penghasilan keluarga hanya bergantung pada pekerjaan serabutan sang suami yang mencari rambutan musiman. Yeni juga bekerja mencuci piring di sebuah rumah makan demi menambah pemasukan.
Namun, penghasilan itu jauh dari cukup untuk membiayai pengobatan anak sekaligus memperbaiki rumah.
Ironisnya, di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, keluarga ini mengaku belum pernah menerima Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT).
“PKH tidak pernah, BLT juga tidak pernah dapat. Belum pernah sama sekali,” ujarnya.
Yeni hanya berharap pemerintah memberi perhatian terhadap keluarganya. Ia ingin anaknya tetap bisa menjalani pengobatan dan keluarganya memiliki rumah yang layak untuk ditempati.
“Harapan saya semoga ada yang peduli. Anak saya harus transfusi darah setiap bulan, rumah juga sudah mau roboh. Mudah-mudahan ada bantuan,” ucapnya.
Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Caringin, Fathurrahman, membenarkan kondisi keluarga tersebut. Ia menjelaskan, keluarga Yeni memang belum masuk daftar penerima PKH maupun BPNT, meski telah memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan.
Menurutnya, data kesejahteraan sosial menempatkan keluarga itu pada kategori desil lima sehingga belum menjadi prioritas penerima bantuan sosial pemerintah.
“Rumahnya memang hampir roboh. Kendalanya, bangunan itu berdiri di atas tanah milik warga asal Serang sehingga status lahannya masih menumpang,” kata Fathurrahman.
Ia menambahkan, pemerintah menyalurkan bantuan sosial berdasarkan data desil nasional. Warga yang berada pada kelompok desil terbawah mendapat prioritas sepanjang memenuhi persyaratan yang berlaku.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd