Beranda Nasional Di Jantung Rawa Danau

Di Jantung Rawa Danau

Rawa Danau. (Dok.BBKSDA Jawa Barat Wilayah I Serang)

SERANG– Sampan kayu tua itu bergerak oleh kayuhan dua dayung, satu di depan, satu di belakang. Di antaranya, lima orang duduk saling membelakangi, menahan gerak agar keseimbangan perahu sepanjang tiga meter itu tetap terjaga.

Kayuhan dayung perlahan membawa rombongan ke kawasan inti cagar alam Rawa Danau. Perjalanan ke titik itu diawali dengan menumpang sepeda motor, menyusuri jalur tanjakan dan turunan curam hingga akhirnya tiba Kampung Baru, Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang.

Sampan terus bergerak, dari area persawahan warga, pemandangan berubah menjadi barisan vegetasi beragam. Jejawai (Ficus retusa) berdiri dengan akar-akar gantung yang menyentuh air, menghadirkan kesan seperti tengah syuting adegan petualangan di rimba yang biasa ditemui di film Hollywood.

Pohon lain yang menyambut adalah Tangtalang (Elaeocarpus obtusus) yang punya karakteristik tinggi, besar, serta permukaan yang kasar. Selain itu ada Gempol (Nauclea orientalis) dengan batang besar, tegak dan beralur kuning.

Para penghuni Rawa Danau juga tak malu-malu menampakan diri. Menoleh ke samping kanan sampan telihat permukaan air beriak kecil menampakan kepala seekor otter kecil yang hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali menghilang ke dalam air.

Beberapa kayuhan kemudian, seekor monyet ekor panjang terlihat melombat dari satu batang pohon ke batang lainnya sambil membawa anaknya. Di atasnya sekelompok burung kuntul berwarna putih bersih terlihat melintas.

“Buaya ada juga cuma jarang nongol bahkan sulit tapi jangan sampai lah,” kata Agus Yulianto, Fungsional Polisi Hutan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Wilayah I Serang, Kamis (15/1/2026).

Agus bersama tiga rekannya serta beberapa mahasiswa magang tengah melakukan kegiatan pemantauan pembersihan gulma atau tanaman invasif yang mengancam perairan. Salah duanya adalah eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan kiambang (Pistia stratiotes).

Baca Juga :  Diundang DPR, Mahfud MD akan Buktikan Dugaan Pencucian Uang di Kemenkeu

Pembersihan itu rutin dilakukan karena tanaman-tanaman tersebut tumbuh sangat cepat serta kerap menutupi jalur air, mengurangi oksigen, dan merusak biota air. Pembersihan dilakukan secara manual dengan melibatkan tenaga manusia, yang sengaja direkrut dari warga sekitar oleh BBKSDA.

“Menjaga keberlangsungan hidup mikroorganisme penting sekali. Ketika salah satu rantai ekosistem rusak pasti mengakibatkan kerusakan ke yang lain. Makanya cagar alam Rawa Danau penting karena penunjang kehidupan masyarakat termasuk memasok air di beberapa wilayah Banten,” ujar Agus.

Kepala Seksi Wilayah I Serang BBKSDA Jawa Barat, Mufti Ginanjar, menyebutkan bahwa hingga kini tercatat sekitar 142 jenis tumbuhan di kawasan Rawa Danau. Sementara itu, keanekaragaman faunanya mencakup 89 jenis burung, 19 jenis ikan, 10 jenis amfibi, 55 jenis serangga, 19 jenis mamalia, serta 11 jenis reptil.

Satwa-satwa tersebut termasuk lutung jawa, kucing hutan, elang bondol, ikan lendi, hingga ular kobra yang kebetulan tidak terlihat saat kunjungan kami ke Rawa Danau. Seluruhnya merupakan fauna asli kawasan tersebut yang punya berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan keutuhan ekosistem.

Dengan statusnya sebagai cagar alam dan tingginya keanekaragaman flora serta fauna, Mufti menegaskan bahwa tidak semua orang diperkenankan memasuki kawasan seluas 3.541 hektare itu. Akses hanya dibuka untuk dua kepentingan, yakni pendidikan dan penelitian. Setiap pengunjung pun diwajibkan mengantongi Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI).

“Intinya (Rawa Danau) untuk sistem penyangga kehidupan. tujuannya memastikan pasokan air berjalan dengan baik,” ujarnya.

Bahkan di kawasan Cagar Alam Tukung Gede yang berdampingan dengan Rawa Danau, penelitian Diah Sulistiarini dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2011 mencatat sedikitnya 85 jenis tumbuhan dari 38 famili dan 62 marga yang tergolong sebagai tanaman obat.

Baca Juga :  Anggota Komisi IV Dukung Langkah Kementan Jaga Pangan

Berbagai tumbuhan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dengan cara direbus untuk diambil airnya dan diminum. Sementara untuk pengobatan luar, bagian tanaman ditumbuk atau diremas terlebih dahulu sebelum dioleskan ke bagian tubuh yang membutuhkan.

“Dari 85 jenis tumbuhan yang dicatat, 11 jenis diantaranya belum pernah dilaporkan berpotensi obat,” tulis penelitian tersebut.

Salah satu contoh tanaman obat yang kerap dimanfaatkan masyarakat adalah kecapi atau Sandoricum koetjape yang digunakan untuk meredakan demam. Selain itu, angsana atau Pterocarpus indicus juga kerap dimanfaatkan sebagai obat sariawan dengan mengoleskan getahnya langsung pada bagian yang luka.

Penulis: Audindra Kusuma
Editor: