Beranda Peristiwa Di Balik Keberanian M Bagus, Ada Pesan Ayah yang Kini Menunggu Kepulangannya

Di Balik Keberanian M Bagus, Ada Pesan Ayah yang Kini Menunggu Kepulangannya

Mansur Suryana, Ayah Pewarta Foto Antara M. Bagus Khoirunnas saat ditemui BantenNews.co.id di Posko Pencarian. (Mg-Madani Prasetia/bantennews)

PANDEGLANG – Empat hari berlalu, di Posko Marina Lippo Carita, Kabupaten Pandeglang, keluarga masih menunggu kabar tentang lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di perairan Selat Sunda.

Di antara mereka, ada Mansyur Suryana yang setiap hari datang membawa harapan sekaligus kecemasan. Putranya, Muhammad Bagus Khoirunnas, menjadi salah satu jurnalis yang hingga kini belum ditemukan.

Sembari menunggu tim SAR gabungan bekerja, Mansyur memilih bercerita tentang Bagus. Tentang anak yang ia kenal sebagai pribadi pemberani, fotografer yang tak pernah ragu mengejar gambar, dan jurnalis yang memilih jalan sunyi menuju pelosok Banten demi sebuah berita.

“Berita-berita dia masuk nasional, internasional dari hasil foto jepretannya. Itu yang membuat saya bangga,” kata Mansyur di Posko, Jumat (11/9/2026).

Bagus tidak menempuh pendidikan jurnalistik. Ia sempat kuliah Psikologi di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka), kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Pamulang.

Kini Bagus mengejar gelar sarjana. Ia menargetkan, lulus pada 2027 untuk memenuhi persyaratan pendidikan di tempatnya bekerja.

“Katanya ke saya, tahun 2027 ingin lulus karena Antara membutuhkan ijazah S1,” ujar Mansyur.

Namun, bagi Mansyur, keberanian Bagus jauh lebih menonjol daripada gelar akademiknya.

Bagus terbiasa masuk ke wilayah pedalaman Kabupaten Lebak dan Pandeglang seorang diri. Tak jarang ia berangkat ketika hari sudah gelap.

“Dia orangnya berani. Tidak takut harimau, tidak takut begal. Kalau liputan ke pedalaman, sering berangkat sendiri,” tutur Mansyur.

Keberanian itu menjadi bagian dari keseharian Bagus sebagai jurnalis foto. Ia mengejar momen, mencari sudut terbaik, lalu mengabadikannya melalui kamera.

Tetapi ada satu hal yang selalu membuat Mansyur kesal sekaligus khawatir, Bagus jarang bercerita.

Baca Juga :  Bupati Pandeglang Gembira Status Gunung Anak Krakatau Turun

“Dia tidak pernah banyak bicara kalau mau ke mana liputan. Tahu-tahu sudah berangkat saja,” katanya.

Kebiasaan itu membuat Mansyur tidak mengetahui ketika Bagus berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK) bersama rekan-rekan jurnalis lainnya. Kini, sang ayah hanya bisa menunggu.

Bagus lahir di Rumah Sakit Salak, Kota Bogor, pada 1998. Ia kemudian tumbuh dan bersekolah di Rangkasbitung. SMP Negeri 2 Rangkasbitung hingga SMK Negeri 1 Rangkasbitung menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebelum memilih dunia jurnalistik.

Mansyur merasa pilihan Bagus menjadi wartawan tidak datang begitu saja. Ia menduga putranya menyerap banyak nilai dari dirinya.

Sejak awal, Mansyur selalu mengingatkan Bagus agar tidak menjalani profesi wartawan setengah hati.

“Saya selalu bilang, kalau jadi wartawan harus total, harus fokus, harus benar,” ucapnya.

Bagi Mansyur, pekerjaan wartawan bukan sekadar mengejar berita atau menghasilkan foto. Jurnalis punya tanggung jawab untuk menyampaikan suara masyarakat yang sering kali tidak terdengar.

Ia percaya kerja jurnalistik juga memiliki nilai ibadah ketika seorang wartawan menyampaikan kondisi masyarakat dan alam secara benar kepada publik.

“Pekerjaan wartawan itu ada nilai ibadah karena mengabarkan kondisi masyarakat dan alam kepada publik,” katanya.

Mansyur melihat media sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Keluhan tentang jalan rusak, persoalan lingkungan, hingga berbagai masalah publik bisa sampai ke pengambil kebijakan melalui pemberitaan.

“Media memberikan kontribusi agar masyarakat merasa aman, nyaman, dan sejahtera karena ada yang menyampaikan suara mereka,” ujarnya.

Kini, pesan-pesan tentang profesi itu terasa berbeda.

Empat hari pencarian berlalu tanpa kepastian. Kamera yang biasa menemani Bagus mencari cerita kini tidak bisa membawa kabar kepada keluarganya.

Di posko, Mansyur masih menunggu. Kebanggaan terhadap putranya tetap ada. Tetapi untuk saat ini, ia hanya menginginkan satu hal, Bagus kembali.

Baca Juga :  Perampok di Minimarket Lebak Kuras Uang di ATM

Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd