Beranda Advertorial Deteksi Dini Penyakit Pneumonia Pada Balita, Begini Tips Dinkes Banten

Deteksi Dini Penyakit Pneumonia Pada Balita, Begini Tips Dinkes Banten

Sosialisasi deteksi dini terhadap penyakit Pneumonia di 5 wilayah Provinsi Banten

SERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten melakukan sosialisasi deteksi dini terhadap penyakit Pneumonia di 5 wilayah Provinsi Banten. Sosialisasi ini diharapkan masyarakat Banten mengetahui gejala, tanda, pencegahan, serta faktor risiko Pneumonia, sehingga dapat mengetahui deteksi dini.

Kepala Dinkes Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Pneumonia adalah pembunuh utama balita di dunia, lebih banyak dibanding dengan gabungan penyakit AIDS, Malaria dan Campak.

“Di dunia setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta Balita meninggal karena Pneumonia (1 Balita/20 detik) dari 9 juta total kematian Balita. Pneumonia disebut juga pembunuh Balita yang terlupakan atau “the forgotten killer of children”(Unicef/WHO 2006, WPD 2011),” kata Ati Pramudji Hastuti, Senin (29/11/2021)

Kegiatan sosialisasi deteksi dini Pneumonia pada masyarakat telah dilaksanakan di beberapa wilayah di Provinsi Banten di diantaranya wilayah Kabupaten Tangerang pada tanggal 14 Oktober 2021 dan tanggal 27 Oktober 2021, wilayah Kabupaten Serang pada tanggal 19 Oktober 2021, wilayah Kabupaten Lebak pada tanggal 21 Oktober 2021 dan Wilayah Kabupaten Pandeglang pada tanggal 18 November 2021.

Pada kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari masing-masing wilayah kerja kabupaten/kota baik kepala seksi P2PM ataupun kepala Bidang P2P. Selain narasumber kabupaten/kota juga hadir narasumber Dewan Komisi V Provinsi Banten.

Ati menjelaskan mengenai tanda dan gejala Pneumonian pada peserta yang hadir. “Apabila ditemukan balita dengan napas cepat dan terlihat tanda gejala Tarikan Dinding Dada Kedalam (TDDK) maka segera bawa ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Ati menyampaikan bahwa napas cepat pada balita kurang dari dua bulan sebanyak 60 kali per menit, 2 bulan sampai kurang dari 12 bulan sebanyak 50 kali per menit, dan 12 bulan sampai kurang 5 tahun sebanyak 40 kali per menit. Penyebab pneumonia bisa dari virus, bakteri maupun jamur,” katanya.

Anak bisa sakit Pneumonia, kata Ati, bisa karena berat badan lahir rendah (BBLR), gizi kurang, imunisasi tidak lengkap, pemberian ASI kurang dari 6 bulan, pencemaran udara dan ventilasi kurang serta penghuni rumah yang padat.

“Untuk itu apabila ditemukan anak batuk dan sesak napas maka segera bawa ke puskesmas. Hal yang perlu diperhatikan apabila anak batuk adalah pernapasannya. Apabila diketahui memiliki tanda dan gejala seperti napas cepat perlu segera dibawa ke puskesmas untuk diberi pengobatan dengan antibiotik,” jelasnya.

Pada setiap pertemuan, diharapkan peserta dapat mengetahui gejala, tanda, pencegahan serta faktor risiko sehingga peserta dapat mengetahui deteksi dini Pneumonia pada masyarakat.

Deteksi dini Pneumonia pada masyarakat merupakan hal yang penting dilakukan sebagai upaya mengurangi angka kematian balita akibat pneumonia. Dengan mengetahui deteksi dini masyarakat dapat melakukan pengobatan sedini mungkin.

Untuk diketahui, peserta yang hadir pada kegiatan terdiri dari kader, tokoh masyarakat dan tokoh agama di wilayah kerja kabupaten/kota. (ADV)