SERANG – Kepala Dinas Energi Sumberdaya Mineral (DESDM) Provinsi Banten, Ari James Farddy mengklaim akan ada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar se-Indonesia di Kabupaten Lebak.
Ia belum merinci lokasi pasti kapan PLTS tersebut akan mulai dibangun. Namun, katanya saat ini sudah ada investor yang tertarik.
“Ada investor akan membangun PLTS terbesar di seluruh Indonesia (berkapasitas) 400 megawatt itu akan dibangun rencananya di Lebak,” kata Ari, Kamis (11/12/2025).
“Jadi akan jadi padang pasir PLTS semuanya,” sambungnya.
Saat ini, diketahui PLTS terbesar di Indonesia yaitu PLTS Terapung Cirata di Purwakarta, Jawa Barat, dengan kapasitas 192 megawatt. Bahkan PLTS itu merupakan yang terbesar juga di Asia Tenggara.
Selain PLTS, Ari menuturkan akan ada juga pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB) berkapasitas 200 megawatt di jalur pesisir dari batas Taman Nasional Ujung Kulon hingga Pelabuhan Ratu.
Kata dia, sudah ada dua perusahaan yang akan menjadi investor. Dia tidak menyebut dari mana perusahaan tersebut, namun salah satunya sudah mulai melakukan penelitian.
“Salah-satunya sudah membuat menyimpan alat untuk memonitoring berapa ketinggiannya berapa kecepatannya, dan sekarang sedang dilakukan penelitian karena tenaga bayu ini kan tidak sembarang,” tuturnya.
PLTS itu akan mendukung pengurangan emisi karbon dan transisi menuju energi bersih yang dicanangkan pemerintah pusat. Ari menuturkan dirinya belum bisa menyebutan jumlah dana yang diperlukan untuk proyek tersebut.
Investor yang sudah melakukan penelitian, kata dia saat ini sudah memasang alat pemantau untuk mengukur kecepatan dan menentikan ketinggian ideal agar baling-baling turbin bisa berputar secara konstan.
Waktu yang dibutuhkan untuk penelitian itu kata Ari tidaklah singkat. Perlu minimal satu tahun untuk memastikan lokasi yang ditentukan apakah bisa sesuai atau tidak.
“Harus tau ketinggiannya berapa meter, kecepatan anginnya berapa. Jadi harus diteliti dengan baik dan benar jangan sampai kita bikin PLTB di sini keitinggian 10 meter ternyata angin yang konstannya 12 meter, (nanti) salah lagi (padahal) pembangunan udah mahal,” ujarnya.
Ari mengaku belum bisa secara pasti menyebut kapan proyek tersebut rampung karena masih menunggu studi kelayakan dan detail engineering design (DED).
“Ya, kami harap sebelum tahun 2034 sesuai dengan rencana umum penyediaan tenaga listrik PT PLN,” ucapnya.
Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
