KAB. SERANG – Aktivitas bongkar muat barang dan sandar kapal nelayan di Pulau Tunda, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, terganggu akibat ambruknya dermaga utama. Hingga kini, belum ada perbaikan permanen dari pemerintah daerah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dermaga utama di Kampung Timur Pulau Tunda ambruk sejak 27 September 2025. Sejak saat itu, warga yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai nelayan dan buruh angkut terpaksa tetap beraktivitas dengan kondisi terbatas dan berisiko.
Aparatur Desa Wargasara, Rais, mengatakan kondisi dermaga hingga kini masih memprihatinkan dan berpotensi membahayakan keselamatan warga. Ia meminta pemerintah daerah segera melakukan perbaikan sebelum terjadi korban.
“Dermaga utama sampai hari ini masih rusak parah. Kami mohon dinas terkait segera merespons dan memperbaikinya sebelum ada warga yang terperosok seperti kejadian tahun lalu,” kata Rais kepada BantenNews.co.id, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Rais, keresahan warga semakin meningkat karena dermaga tersebut merupakan akses utama bongkar muat barang kebutuhan pokok ke Pulau Tunda. Aktivitas bongkar muat biasanya mengikuti jadwal keberangkatan Kapal Motor Tunda Express yang beroperasi setiap Senin, Rabu, dan Sabtu.
Ia menambahkan, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Serang sebelumnya telah melakukan peninjauan ke lokasi. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut pasca-survei tersebut.
“Kami di desa bingung karena dermaga ini merupakan aset Dinas Perhubungan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Serang, Beni Yuarsa, membenarkan adanya kerusakan pada dermaga utama Pulau Tunda. Ia menyebut, kerusakan diduga disebabkan oleh usia bangunan, korosi akibat air laut, serta beban muatan yang cukup tinggi.
“Saya sudah menyampaikan kepada warga, desa, dan camat. Memang ada kerusakan di bagian ujung dermaga. Dugaan sementara karena bangunan sudah tua, korosi, dan beban berat,” kata Beni.
Menurutnya, Dishub Kabupaten Serang akan menurunkan tim bidang pelayaran untuk melakukan pengecekan struktur secara menyeluruh guna mengidentifikasi tingkat kerusakan dan kebutuhan perbaikan.
Saat ini, penanganan sementara dilakukan dengan pemasangan tanda pembatas di area dermaga yang ambruk agar tidak membahayakan pengguna.
“Penanganan sementara sudah dilakukan,” ujarnya.
Beni juga menyebutkan, dermaga alternatif di sekitar lokasi masih dapat dimanfaatkan warga dan wisatawan sebagai tempat sandar sementara.
“Masih ada titik di sisi kiri dan kanan dermaga yang bisa digunakan,” katanya.
Untuk perbaikan permanen, Dishub Kabupaten Serang berencana mengusulkan anggaran pada tahun 2026 setelah hasil pengecekan struktur selesai dilakukan.
“Detail kerusakan dan kebutuhan anggaran akan dihitung setelah pengecekan lapangan,” ucapnya.
Pemerintah desa mengaku telah melakukan penanganan awal secara swadaya. Namun, keterbatasan anggaran membuat perbaikan menyeluruh belum dapat dilakukan, sehingga warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
Penulis: Rasyid
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd
