SERANG – Pagi itu, sembilan pria lintas usia dengan cangkul, sabit, dan harapan sederhana melangkah meninggalkan rumah mereka menuju hamparan sawah yang setiap hari menjadi saksi hidup perjuangan mereka.
Langit masih cerah, tenang, seperti biasanya sebelum malapetaka datang menyergap dan merenggut harapan dan masa depan mereka.
Di lokasi kejadian, jejak-jejak kehidupan para petani itu masih tertinggal, nampak gelas plastik, termos air hangat, puntung rokok yang belum padam sempurna, hingga pakaian yang tercecer begitu saja ditinggalkan untuk selamanya oleh pemiliknya. Tak seorang pun berani menyentuhnya.
Gubuk tempat mereka berteduh berada jauh dari pemukiman, menuntut perjalanan kaki hampir satu kilometer, sekitar dua puluh menit melintasi pematang sawah yang sunyi dan berselimut misteri paska kejadian.
Menurut Sohib (27), salah seorang warga kampung Badamussalam, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, tempat itu memang kerap menjadi sasaran kilatan petir ketika hujan singgah di wilayahnya.
Namun begitu, tak ada yang menyangka, sambaran pada Selasa (2/12/2025) petang kemarin justru merenggut sembilan korban sekaligus peristiwa yang terburuk sepanjang ingatan mereka.
Sohib menceritakan, bahwa mayoritas warga di kampungnya hanyalah petani buruh penggarap lahan milik orang saja.
“Mereka bekerja dari subuh, jam enam sudah di sawah sampai sore,” tuturnya kepada BantenNews.co.id, Rabu (3/12/2025).
Kata Jarkah (62), wanita lanjut usia yang bermukim tak jauh dari tempat kejadian menyebut cuaca terasa menyengat sebelum hujan dan kejadian tragis itu berlangsung.
Namun, menjelang pukul tiga sore, langit tiba-tiba menggelap dan hujan turun deras menyelimuti wilayah Badamusalam.
Para petani sepakat berteduh di sebuah saung kecil sebelum pulang. Beberapa masih memegang ponsel, salahsatu di antaranya bahkan tengah dihubungkan ke powerbank yang disimpan rapi di dalam tas gendongnya.
Sampai ketika, ponsel milik Abdul Holik berdering dan hendak ia angkat, disebutkan bahwa kilatan petir kedua yang paling kuat seketika menyambar tepat ke arah mereka berteduh.
Samsi (27), salah seorang korban yang selamat, masih sanggup berjalan meminta pertolongan. Warga pun bahu-membahu mengevakuasi para korban dengan cara tradisional dan alakadarnya, ada yang digendong, digotong bahkan ada yang menggunakan bambu dan kain, satu per satu diangkat dan dibawa keluar dari tengah sawah.
Ketua RT02/RW08, Johari (55) juga memberikan kesaksian bahwa pemakaman para korban dilakukan keesokan paginya, pada Rabu (3/12/2025) secara serentak di pemakaman dekat lingkungan mereka masing-masing.
Johari mengenang para korban sebagai sosok yang dekat dengan warga dan tak pernah absen dalam kegiatan gotong royong dan bakti sosial.
Di antara mereka, kata Johari, Rofei (48) begitu diingatnya. “Dia itu saya bina. Saya pikir dia bakal jadi penerus saya (sebagai RT). Orangnya nurut, jujur,” kenangnya.
Sementara, Abdul Holik (48), korban meninggal lainnya, juga dikenal sebagai mantan kepala pemuda yang dihormati, dan dua korban lain yang tak terselamatkan ialah Awaludin (37) dan Sayilan (52).
Sementara lima korban lainnya, Bahroni (60), Syamsi (27), Sayuti (55), Ali Kadir (55), dan Toha (44) masih menjalani perawatan intensif di RSUD Kota Serang serta RSDP.
Lebih jauh Johari menukaskan, kondisi ekonomi para korban pun memprihatinkan. Mereka bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp100 ribu per hari.
Namun pekerjaan hanya datang seminggu dalam enam bulan. Sejak panen sawah beralih menggunakan mesin komben (alat panen modern).
“Mereka ini tercatat sebagai warga tidak mampu. Ada yang menghidupi anak yatim, ada yang bercerai karena ekonomi,” ucapnya.
Sailan, salah seorang korban selamat, bahkan pernah rumahnya tersambar petir beberapa tahun lalu. Kacanya pecah, namun tak ada korban jiwa kala itu.
Dengan demikian, tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi Kampung Badamusalam. Warga berbondong memenuhi Mushola Badamusalam, menanti kepulangan jenazah dalam tangis yang tak tertahan saat jumlah korban tewas diumumkan bertambah menjadi empat.
Walikota Serang, Budi Rustandi langsung meninjau para korban di rumah sakit. Ia memastikan seluruh biaya pengobatan dan pengurusan jenazah ditanggung pemerintah.
“Jangan takut soal biaya. Semua sudah digratiskan,” tegasnya.
Di persawahan yang biasanya penuh tawa para petani, kini hanya angin sore yang mengibaskan kesunyian.
Jejak gelas, puntung rokok, dan pakaian yang terbengkalai menjadi pengingat pahit bahwa alam kadang datang tanpa tanda, merenggut mereka yang hanya sedang berjuang menyambung harapan dunia.
Penulis : Rasyid
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
