
PANDEGLANG – Kemarau panjang menggerus debit air Curug Goong di Desa Kurungkambing, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang. Setelah sekitar lima bulan tanpa hujan yang cukup, aliran air terjun itu menyusut drastis dan jumlah kunjungan wisatawan turun hingga 75 persen.
Pengelola Curug Goong, Aan Sutaryat mengatakan, aliran air di kawasan wisata tersebut belum sepenuhnya kering. Namun, debitnya jauh lebih kecil dibandingkan kondisi normal.
“Musim kemarau mungkin sudah berlangsung sekitar lima bulan. Debit air di aliran Sungai Cilemer menyusut sangat drastis, tetapi masih ada aliran dan belum sampai kering,” kata Aan, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Aan, kondisi air menjadi daya tarik utama Curug Goong. Saat debit menyusut, wisatawan kehilangan salah satu alasan utama untuk berkunjung.
“Penurunan akibat debit air yang sangat kecil mungkin sekitar 75 persen. Biasanya ramai sekali, tetapi sekarang penurunannya sangat besar,” ujarnya.
Sepinya pengunjung turut menekan aktivitas dan pendapatan pengelola. Aan mengatakan, pihaknya tetap melayani pengunjung sekaligus memanfaatkan waktu untuk membenahi fasilitas yang mulai rusak, termasuk aula dan sarana ibadah.
Pengelola juga telah berkoordinasi dengan instansi pengairan dan Dinas Pekerjaan Umum untuk mencari solusi. Namun, Aan mengakui aliran air dari kawasan tersebut juga dibutuhkan warga untuk mengairi sawah.
“Kami sudah mencoba bekerja sama, tetapi mungkin saat ini masyarakat lebih membutuhkan air untuk bertani. Jadi, kami menunggu sampai cuaca kembali normal,” katanya.
Aan berharap, pemerintah daerah mempertimbangkan modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kemarau panjang. Menurutnya, hujan dapat membantu memulihkan debit air Curug Goong sekaligus memenuhi kebutuhan petani.
“Harapan saya ada solusi dari pemerintah daerah, mungkin melalui modifikasi cuaca. Setidaknya dalam satu minggu ada satu atau dua kali hujan. Itu akan sangat berpengaruh, bukan hanya untuk wisata, tetapi juga bagi para petani,” tuturnya.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd