Beranda Budaya Dari Mercusuar Anyer ke Panarukan, Jejak Sejarah Bangkit Lewat Festival Dua Ujung...

Dari Mercusuar Anyer ke Panarukan, Jejak Sejarah Bangkit Lewat Festival Dua Ujung Pulau Jawa

Bangunan mercusuar Anyer menjadi titik nol kilometer Pulau Jawa. (Iyus/bantennews)

KAB. SERANG – Sektor pariwisata di Anyer, Kabupaten Serang, tidak hanya menyuguhkan keindahan pantai saja, namun juga terdapat jejak sejarah. Tepat di bibir Selat Sunda di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, berdiri kokoh bangunan mercusuar setinggi 75 meter.

Bangunan itu bukan hanya sebuah penanda bagi para nelayan dan pelaut, tetapi juga sebuah relik yang menjadi saksi bisu sejarah Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.

Hingga kini, cahaya Mercusuar Anyer tak pernah benar-benar padam. Kini, dari kawasan yang dikenal sebagai Titik Nol Pulau Jawa itu, semangat baru kembali menyala.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang dan Pemkab Situbondo resmi bersepakat menghidupkan kembali jejak bersejarah Anyer-Panarukan melalui sebuah festival.

Festival itu bukan hanya mengangkat romantisme masa lalu, tetapi juga membidik pertumbuhan pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, hingga peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan (MoU) kedua daerah di Pendopo Kabupaten Situbondo, Jawa Timur pada Rabu (30/7/2026) lalu.

Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah menegaskan, kerja sama tersebut menjadi langkah konkret mengoptimalkan potensi sejarah menjadi kekuatan ekonomi baru.

“Semangatnya adalah mengoptimalkan potensi daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah serta kesejahteraan masyarakat Kabupaten Serang dan Kabupaten Situbondo,” kata Zakiyah.

Menyambung Jejak Daendels

Festival itu bukan muncul tanpa alasan. Nama Anyer-Panarukan telah melekat kuat dalam sejarah Indonesia sejak awal abad ke-19 ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) sepanjang sekitar 1.000 kilometer.

Jalan tersebut menghubungkan Anyer di ujung barat Pulau Jawa dengan Panarukan di ujung timur. Jalur itu menjadi urat nadi transportasi, perdagangan, hingga pertahanan Hindia Belanda.

Di titik awal perjalanan itulah berdiri Mercusuar Anyer atau Mercusuar Cikoneng.

Baca Juga :  Pelanggaran Hukum dan Asusila Kian Marak di Pabuaran Kabupaten Serang

Mercusuar yang berdiri saat ini dibangun pada 1885, dua tahun setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau tahun 1883 menghancurkan mercusuar lama beserta kawasan pesisir Anyer.

Sejak saat itu, cahaya mercusuar menjadi penuntun kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda, salah satu jalur pelayaran tersibuk di Indonesia.

Bangunan berlantai 18 tersebut bukan sekadar penunjuk arah. Ia menjadi penanda bahwa Anyer merupakan gerbang Pulau Jawa sekaligus titik awal Jalan Raya Pos yang legendaris.

Dari puncaknya, wisatawan masih dapat menikmati bentangan Selat Sunda hingga siluet Gunung Anak Krakatau saat cuaca cerah.

Dari Sejarah Menjadi Mesin Ekonomi

Kini, Pemkab Serang dan Situbondo ingin membawa nama besar Anyer-Panarukan keluar dari buku sejarah.

Melalui Festival Anyer-Panarukan, kedua daerah akan mengemas kembali warisan sejarah itu menjadi atraksi budaya dan pariwisata yang mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo menilai, nama Anyer dan Panarukan sudah memiliki kekuatan branding yang dikenal masyarakat Indonesia.

“Festival Anyer-Panarukan kami rancang untuk menggerakkan perekonomian daerah, memperkuat promosi wisata, serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk pelaku UMKM,” ujarnya.

Festival tersebut menjadi bagian dari program Anyer-Panarukan 3R, sebuah konsep pengembangan jangka panjang yang menghidupkan kembali koridor sejarah melalui sektor budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan potensi lokal.

Konsep 3R (Road) menjadikan Jalan Raya Pos bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga penghubung kolaborasi antardaerah.

Cahaya Mercusuar Masih Menyala

Bagi masyarakat Anyer, Mercusuar Cikoneng tidak hanya menjadi destinasi wisata atau peninggalan kolonial. Bangunan itu telah menjelma sebagai simbol keteguhan menghadapi bencana, perubahan zaman, dan perjalanan panjang sejarah bangsa.

Kini, cahaya mercusuar itu seakan kembali menemukan maknanya.

Baca Juga :  Suzuki Ertiga Tertabrak Kereta Barang di Serang

Jika dulu Anyer menjadi titik awal perjalanan Jalan Raya Pos menuju Panarukan, kini kedua daerah kembali menyambung jejak yang pernah terputus.

Bedanya, jalan yang ditempuh bukan lagi untuk kepentingan kolonial, melainkan untuk membangun identitas sejarah, menggerakkan pariwisata, mengangkat UMKM, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Festival Anyer-Panarukan pun diharapkan menjadi momentum yang mengubah warisan sejarah menjadi masa depan. Dari ujung barat Pulau Jawa, cahaya Mercusuar Anyer kembali mengirim pesan bahwa sejarah tidak cukup hanya dikenang. Sejarah juga bisa menjadi penggerak pembangunan.

Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah