Beranda Peristiwa Dari Jembatan Bambu, Tumbuh Harapan Baru

Dari Jembatan Bambu, Tumbuh Harapan Baru

Seorang anak melompat dari Jembatan Merah Putih di Kampung Ilat. (Foto: Saepulloh/BantenNews.co.id)

KAB. TANGERANG – Deru kendaraan tak pernah berhenti di Jalan Raya Cadas Kukun, beradu dengan suara tawa sekelompok anak kecil yang melompat dari sebuah jembatan bercat merah putih pada Jumat (12/6/2026) sore.

Di bawah langit yang mulai berwarna jingga, mereka berlari dan saling menantang untuk melompat ke aliran irigasi yang membelah Kampung Pabuaran dan Kampung Ilat, RT 02/RW 03, Desa Pangadegan, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

Satu per satu tubuh mungil itu melompat dari bibir jembatan, menghasilkan cipratan air dari anak Sungai Cisadane. Aktivitas tersebut menjadi refleksi kegembiraan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Meski matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, lokasi ini tetap menjadi ruang bermain dan tempat berkumpul yang tak pernah sepi. Pemandangan itu menghadirkan nostalgia, ketika anak-anak menghabiskan waktu di ruang terbuka, bercengkerama, dan bermain bersama.

Di banyak tempat, aktivitas seperti ini perlahan memudar tergerus perubahan pola interaksi sosial di era digital. Namun, di sudut Kabupaten Tangerang ini, kebersamaan itu masih hidup.

Bagi anak-anak, jembatan merah putih yang kini berdiri kokoh mungkin hanya tempat bermain. Namun bagi sekitar 420 kepala keluarga di Kampung Ilat, jembatan tersebut merupakan akhir dari penantian panjang yang berlangsung selama tiga tahun.

Sebelumnya, warga hanya mengandalkan jembatan bambu sederhana sebagai akses penghubung menuju Kampung Pabuaran. Jembatan itu hanya dapat dilalui pejalan kaki, termasuk anak-anak yang hendak pergi ke sekolah.

Jembatan darurat tersebut dibangun secara swadaya oleh warga setelah jembatan permanen sebelumnya ambruk karena faktor usia.

“Karena sudah rapuh dan roboh, akhirnya diganti sementara dengan jembatan bambu,” kata Ketua RT 02/RW 03 Kampung Ilat, Murhadi.

Baca Juga :  Rumahnya Terancam Longsor, Warga Curug Kepuh Cilegon Keluhkan Aktivitas Tambang Pasir

Namun, kata “sementara” ternyata berlangsung hingga tiga tahun. Seiring waktu, bambu-bambu penyangga mulai miring dan lapuk dimakan cuaca. Setiap kali terlihat rusak, warga kembali memperbaikinya secara gotong royong agar tetap bisa digunakan.

Kondisinya kerap mengkhawatirkan, terutama saat musim hujan. Meski tidak pernah terjadi kecelakaan serius, rasa cemas selalu membayangi warga. Permukaan bambu menjadi licin, sementara aliran air di bawahnya semakin deras.

Jembatan bambu itu juga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga harus memutar hingga ratusan meter menuju jembatan lain di sekitar Yayasan Cordova 3. Perjalanan menjadi lebih panjang, waktu terbuang lebih banyak, dan aktivitas sehari-hari menjadi tidak efisien.

Usulan Warga yang Berbuah Solusi

Cerita tentang kebutuhan layanan dasar masyarakat tidak selalu mendapat respons cepat. Dibutuhkan waktu, proses, dan perjuangan panjang agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.

Murhadi memahami bahwa kebutuhan masyarakat tidak selalu bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Namun, ia percaya setiap persoalan harus terus disampaikan hingga menemukan jalan keluar.

Sebagai perwakilan warga, Murhadi terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak terkait. Usulan pembangunan jembatan disampaikan secara berjenjang, mulai dari Pemerintah Desa Pangadegan hingga Bhabinkamtibmas setempat.

Gayung pun bersambut. Usulan tersebut mendapat respons cepat dari Polsek Pasar Kemis melalui Program Jembatan Merah Putih Presisi, sebuah program yang digagas Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Pada 21 April 2026, proses groundbreaking dipimpin langsung oleh Kapolda Banten Irjen Pol Hengki. Turut hadir Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid, Kapolresta Tangerang Kombes Pol Indra Waspada, serta sejumlah pejabat lainnya.

Dalam kesempatan itu, Hengki menegaskan pembangunan jembatan merupakan wujud nyata kehadiran Polri dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :  Pascom III Piala Wali Kota Tangerang Diikuti 1.000 Pramuka, Kwarda Banten Dorong Jadi Ajang Nasional

“Kehadiran Jembatan Merah Putih Presisi menjadi simbol negara yang responsif, solutif, dan berpihak kepada rakyat,” tegasnya.

Dibangun Cepat, Berdiri Kokoh

Jembatan tersebut dibangun menggunakan baja Wide Flange (WF) dengan sistem bentang tunggal pada kedua sisi. Pondasi dan abutment beton bertulang menjadi tumpuan utama struktur jembatan. Sementara pada bagian lantai dipasang pelat bordes sebagai pijakan pengguna.

Dengan panjang 16 meter dan lebar 1,2 meter, jembatan ini dilengkapi pagar pengaman baja di kedua sisi guna meningkatkan keselamatan pengguna saat melintas.

Proyek tersebut menelan biaya Rp185.736.079 yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) lima perusahaan.

Menariknya, pembangunan yang semula ditargetkan selesai dalam waktu dua bulan justru rampung hanya dalam 15 hari.

Meski dikerjakan dalam waktu singkat, aspek kualitas dan keselamatan tetap menjadi perhatian utama. Hal ini menunjukkan komitmen kuat Polri dalam memenuhi kebutuhan layanan dasar masyarakat secara cepat dan tepat.

Kepolisian memahami pentingnya sebuah jembatan karena memiliki dampak luas, mulai dari meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, memperlancar mobilitas, hingga memperkuat hubungan sosial masyarakat.

Kapolsek Pasar Kemis AKP Humaedi mengatakan pembangunan jembatan bermula dari pendataan kebutuhan masyarakat yang dilakukan jajaran kepolisian pada Maret 2026.

Saat itu, pihaknya mendapat arahan dari Kapolda Banten untuk mendata rumah tidak layak huni, kebutuhan sumur bor, hingga jembatan yang membutuhkan perhatian. Dari pendataan tersebut, muncul usulan perbaikan jembatan di Kampung Ilat.

“Salah satu yang kami usulkan adalah jembatan ini, karena sudah lama dibutuhkan warga setelah roboh,” ujarnya.

Humaedi menambahkan, keberadaan jembatan tersebut mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperlancar mobilitas warga, mendukung aktivitas ekonomi lokal, serta menyediakan akses yang aman dan nyaman.

Baca Juga :  Ini Alasan Pemakaian Nama Kerajaan Ubur-ubur

“Pembangunan Jembatan Merah Putih bertujuan memudahkan pergerakan ekonomi lokal, mobilisasi masyarakat, serta memberikan keamanan bagi warga yang melintas menggunakan jembatan yang layak,” ungkapnya.

Kini warga tidak lagi harus memutar hingga ratusan meter untuk beraktivitas. Waktu tempuh menjadi lebih singkat, akses lebih mudah, dan mobilitas lebih aman.

Perubahan itu dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Alhamdulillah, setelah dibangun aktivitas warga jadi lebih mudah, baik untuk berangkat kerja maupun sekolah,” tutur Murhadi.

Tak hanya di Kampung Ilat, jembatan serupa juga dibangun oleh Polresta Tangerang di Kampung Pekong, Desa Saga, Kecamatan Balaraja, serta di Kampung Cinamprak, Desa Mauk Barat, Kecamatan Mauk.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki bersama unsur Muspida Kabupaten Tangerang berada di atas jembatan bambu sebelum pembangunan Jembatan Merah Putih. (Foto: Istimewa)

Di tengah lalu-lalang kendaraan dan tawa anak-anak yang terus bergema setiap sore, Jembatan Merah Putih Presisi kini berdiri bukan sekadar sebagai infrastruktur.

Ia menjadi penghubung harapan, mempertemukan kebutuhan dengan solusi, sekaligus mengikat kembali kehidupan yang sempat terpisah oleh keterbatasan akses.

Dari bambu yang rapuh, tumbuh harapan baru yang kini berdiri kokoh di atas baja—menjadi pengingat bahwa penantian selama tiga tahun itu akhirnya berakhir.

Penulis: Saepulloh
Editor: Usman Temposo