Beranda Bisnis Dari Gang Sempit Karawaci, Mas Gokil Produksi Sepatu Lokal ke Pasar Global

Dari Gang Sempit Karawaci, Mas Gokil Produksi Sepatu Lokal ke Pasar Global

Agus Eliawan, yang akrab disapa Mas Gokil, membangun mimpinya di industri kreatif Kota Tangerang.

TANGERANG — Di sebuah bengkel produksi sederhana di Jalan Kampung Kambing, Kelurahan Nusa Jaya, Kecamatan Karawaci, deru mesin jahit dan aroma khas material sepatu menjadi penanda lahirnya ribuan produk lokal setiap bulan. Dari tempat itulah Agus Eliawan, yang akrab disapa Mas Gokil, membangun mimpinya di industri kreatif Kota Tangerang.

Dua tahun lalu, usaha itu hanya dimulai dari ruang produksi kecil dengan kemampuan terbatas. Namun, di balik kesederhanaan tempat usahanya, tersimpan keyakinan besar bahwa produk lokal mampu bersaing di tengah ketatnya industri fashion.

Kini, bengkel produksi tersebut justru menjadi salah satu roda penggerak industri kreatif lokal. Agus dipercaya memproduksi sepatu untuk sekitar 50 merek lokal dengan kapasitas produksi mencapai 3.000 hingga 4.000 pasang per bulan.

Bagi Agus, membangun usaha bukan hanya soal mengejar keuntungan. Ia ingin membuktikan bahwa industri kreatif dapat tumbuh dari lingkungan sendiri dan memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

“Awalnya kami hanya produksi sekitar 50 sampai 100 pasang per bulan. Sekarang alhamdulillah sudah berkembang jauh,” ujar Agus saat ditemui di lokasi produksinya.

Material lokal menjadi kekuatan utama produk yang dibuatnya. Ia memilih menggunakan canvas cotton berkualitas tinggi yang dinilai nyaman sekaligus memiliki daya tahan baik. Pilihan bahan tersebut membuat banyak merek lokal mempercayakan produksinya kepada Agus.

Namun, menurutnya, kualitas bahan saja tidak cukup. Kunci utama keberhasilan justru terletak pada riset pasar sebelum desain diproduksi massal.

Agus mengaku dirinya dan tim kerap turun langsung mengamati tren anak muda, mulai dari tempat nongkrong, kafe, hingga pusat perbelanjaan. Dari sana, mereka memetakan model dan gaya yang sedang diminati pasar.

“Dalam proses kreatif, kami melakukan survei desain mulai dari tempat nongkrong, kafe, hingga pusat perbelanjaan. Setelah konsep sampel dibuat, kami melakukan validasi langsung kepada target pasar anak muda. Begitu kami yakin 80 persen desain tersebut diterima, barulah kami melanjutkan ke tahap produksi massal,” jelasnya.

Baca Juga :  Pembukaan Expo Online UMKM Kreatif Banten 2021 Meriah

Strategi itu terbukti efektif. Produk-produk yang dihasilkan mampu mengikuti selera pasar yang cepat berubah, terutama di kalangan anak muda yang menjadi konsumen utama sepatu lokal.

Pertumbuhan usaha tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar. Saat ini, Agus melibatkan sekitar 30 hingga 40 tenaga kerja, mayoritas anak muda dan masyarakat di lingkungan tempat usahanya berdiri.

Di tengah maraknya produk impor dan persaingan industri fashion yang semakin ketat, Agus tetap optimistis industri kreatif lokal memiliki masa depan besar. Baginya, sepatu bukan sekadar produk fashion, tetapi juga simbol kreativitas dan kemandirian ekonomi daerah.

Dari bengkel sederhana di sudut Karawaci, langkah kecil itu kini menjelma menjadi perjalanan besar yang menghidupkan mimpi banyak anak muda Kota Tangerang.

Tim Redaksi