Beranda Pendidikan Dari Apel ke Aksi: Kisah 100 Ribu Siswa Kota Serang yang Memungut...

Dari Apel ke Aksi: Kisah 100 Ribu Siswa Kota Serang yang Memungut Harapan di Hardiknas

Murid SD dan siswa SMP se Kota Serang mengikuti Gemas Libas Gerakan Masyarakat dan Sekolah untuk Lingkungan Indah, Bersih, dan Asri. (Adef/bantennews)

SERANG — Pagi itu, matahari belum tinggi ketika barisan siswa berseragam mulai memenuhi halaman sekolah di Kota Serang, Sabtu (2/5/2026). Mereka berdiri rapi mengikuti apel Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Namun, yang terjadi setelahnya jauh dari rutinitas tahunan.

Tak lama setelah apel usai, suara sapu dan kantong plastik mulai terdengar. Seragam putih-merah dan putih-biru itu bergerak keluar gerbang sekolah. Di tangan mereka bukan lagi buku, melainkan alat kebersihan.

Di salah satu sudut jalan dekat sekolah, Siti—siswi kelas 5 SD—tampak memungut botol plastik dari selokan kecil. Ia tersenyum, meski tangannya kotor.

“Biasanya cuma lewat sini. Sekarang baru sadar ternyata sampahnya banyak,” katanya pelan.

Hari itu, sekitar 100 ribu siswa di Kota Serang melakukan hal yang sama. Mereka menyapu jalan, mengumpulkan sampah, hingga membersihkan saluran air di sekitar sekolah. Radiusnya tidak main-main—hingga satu kilometer dari lingkungan belajar mereka.

Di balik gerakan besar itu, terselip cerita-cerita kecil tentang kesadaran yang tumbuh.

Seorang guru berdiri di pinggir jalan, memperhatikan murid-muridnya bekerja. Sesekali ia ikut memungut sampah yang terselip di rerumputan. Baginya, pelajaran hari itu tidak tertulis di papan tulis.

“Kita ingin mereka paham, lingkungan itu tanggung jawab bersama. Bukan cuma teori di kelas,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang, Ahmad Nuri, menyebut momen ini sebagai pergeseran cara memaknai pendidikan. Menurutnya, Hardiknas harus menyentuh kehidupan nyata siswa.

Ia lalu menggagas program Gemas Libas—Gerakan Masyarakat dan Sekolah untuk Lingkungan Indah, Bersih, dan Asri.

Namun di lapangan, program itu terasa lebih sederhana: anak-anak yang belajar peduli.

Di sebuah gang kecil, beberapa siswa terlihat bekerja sama mengangkat tumpukan sampah yang menyumbat aliran air. Mereka saling bercanda, sesekali tertawa, namun tetap menyelesaikan pekerjaan.

Baca Juga :  Menghadapi Generasi Milenial Proses Belajar Mengajar Harus Mengikuti Zaman

Di sisi lain, warga yang awalnya hanya menonton mulai ikut membantu. Seorang bapak membawa cangkul, seorang ibu menyediakan air minum. Interaksi kecil itu mencairkan batas antara sekolah dan masyarakat.

“Biasanya anak-anak cuma lewat. Sekarang mereka bersihin kampung kami,” kata seorang warga.

Gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari. Dindikbud Kota Serang menyiapkan langkah lanjutan melalui pembentukan Laskar Kebersihan Sekolah—tim kecil yang akan menjaga semangat itu tetap hidup.

Bagi Ahmad Nuri, inti dari semua ini bukan sekadar lingkungan bersih.

“Ini soal karakter. Dari hal sederhana seperti memungut sampah, kita tanamkan rasa peduli dan tanggung jawab,” katanya.

Di tengah isu sampah yang terus menggunung, langkah kecil para siswa itu terasa seperti harapan. Mereka mungkin belum memahami konsep besar tentang lingkungan, tetapi pagi itu mereka belajar sesuatu yang lebih penting—bahwa perubahan bisa dimulai dari tangan sendiri.

Ketika apel selesai dan jalanan kembali sepi, yang tersisa bukan hanya lingkungan yang lebih bersih. Ada kesadaran baru yang perlahan tumbuh—di hati anak-anak yang hari itu tidak hanya belajar, tetapi juga bertindak.

Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd