Beranda Pemerintahan Dampak Pengerukan Pasir Laut Dirasakan Masyarakat Lontar Sampai Saat ini

Dampak Pengerukan Pasir Laut Dirasakan Masyarakat Lontar Sampai Saat ini

Ilustrasi - foto istimewa Google Image

SERANG – Masyarakat pesisir Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang berharap Pilkada 2020 menghasilkan pemimpin yang peduli terhadap lingkungan. Selain itu, pemimpin yang terpilih tidak punya rekam jejak dalam eksploitasi alam.

Salah satu nelayan Berambang Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Ari Komari menuturkan, petani tambak dan nelayan mengaku trauma dengan penyedotan pasir laut di daerah tersebut. Sebab, dampaknya masih dirasakan hingga saat ini.

“Dampak pengerukan pasir laut itu sampai saat ini dirasakan oleh masyarakat. Seperti kemarin kejadian peristiwa yang sejak saya kecil dulu tidak pernah terjadi. Ketika pasang air laut rob itu sampai menyentuh ke pemukiman warga. Kalau dulu ketika air laut pasang ada pasir yang menahan air laut sehingga tidak sampai masuk ke pemukiman warga. Tapi karena pengerukan pasir besar-besaran saat itu air laut ketika pasang langsung naik ke pemukiman warga,” kata Ari kepada awak media, Kamis (12/11/2020).





Tidak hanya itu, dampak eksploitasi lain yang sampai hari ini ekosistem yang menjadi rumah ikan di zona tangkapan hancur berganti lumpur.

“Ketika nelayan memasang jaring ikan di area tangkapan jaring tersebut biasanya akan hilang terbawa lumpur. Itu mungkin karena pasir yang sebelumnya nya berada di atas lumpur serta rumah-rumah ikan yang ada di atasnya sudah hilang.”

Perusahaan yang melakukan pengerukan pasir saat itu pernah berjanji kepada masyarakat untuk melakukan pemulihan dengan cara membuat rumah-rumah ikan tapi sampai pengerukan selesai hingga saat ini tidak pernah terjadi pemulihan dari pihak perusahaan. “Laut sudah dikeruk dan sudah rusak ditinggalkan begitu saja.”

Sampai sekarang, ujar Ari, warga trauma karena pada tahun-tahun sebelumnya, aksi penolakan penyedotan pasir laut tidak pernah digubris oleh Bupati Serang saat itu.

“Meski warga demo menolak pengerukan pasir penyelesaiannya tidak objektif karena kalaupun ada penolakan dari warga pengerukan pasir terus-terusan berjalan. Pemerintah saat itu tidak ada perhatian, bahkan nelayan yang demo diduga tertembak (oknum aparat),” ujarnya.

Oleh sebab itu, masyarakat pesisir, menurut Ari berharap besar terhadap pemimpin yang tidak terlibat dalam kejahatan dan eksploitasi alam. Sebab eksploitasi alam itu merugikan masyarakat nelayan yang hidup dari kekayaan alam. (You/Red)