Beranda Komunitas Cucu Bung Hatta: Anak Muda Lebih Baik ke Museum daripada ke Mall

Cucu Bung Hatta: Anak Muda Lebih Baik ke Museum daripada ke Mall

233
0
Cucu proklamator Indonesia Mohammad Hatta, Gustika Jusuf Hatta dan anak Bung Hatta, Meutia Hatta di Museum Multatuli, Rangkasbitung. (Ist)

LEBAK – Cucu proklamator Indonesia Mohammad Hatta, Gustika Jusuf Hatta mengajak kepada kaum milenal untuk belajar sejarah dengan mengunjungi museum dari pada kongkow di mall.

“Sama teman-teman dari pada ke mall mulu, bisa jalan-jalan ke museum. Museum juga sudah ber-ac juga, selain jalan-jalan juga bisa belajar,” kata Gustika saat menghadiri peringatan Setahun Museum Multatuli, Lebak, Banten, Kamis (21/2/2019).

Menurutnya, agar menggemari sejarah anak muda tidak hanya membaca buku saja. Tapi, bisa mengunjungi museum sambil belajar seperti ke Museum Multatuli yang menjadi museum antikolonial pertama di Indonesia

“Museum Multatuli di Indonesia lebih bagus dibanding Multatuli di Belanda. Di sini lebih besar ada perpustakaan dan terlihat lebih terawat,” ujarnya.

Selain itu, kata alumnus War Studies di King’s College, London itu belajar sejarah tidak hanya sebatas menghapal tapi di dalamnya ada nilai-nilai yang sudah diperjuangkan untuk kemerdekaan Indonesia.

“Kesadaran yang harus dibangun adalah bukan sekedar menghapal sejarah saja. Tapi, nilai-nilai yang diperjuangkan itu apa, dan bisa mengerti, mengkhayati lebih dalam negara ini,” kata Gustika.

Untuk diketahui, Museum Multaltuli didirikan setahun lalu yang mengenang tokoh Belanda penolak kolonialisme tersebut menampilkan sejarah kolonialisme dan antikolonialisme dari berbagai sisi.

Di dalamnya tergambar Museum Multatuli memiliki tujuh ruang pamer. Setiap ruangan mewakili periode di dalam sejarah kolonialisme.

Ruang pertama merangkap sebagai lobi dengan hiasan wajah Multatuli terbuat dari kepingan kaca serta kalimat kutipan Multatuli yang tenar: “Tugas Seorang Manusia Adalah Menjadi Manusia.”

Ruang kedua mengisahkan masa awal kedatangan penjelajah Eropa ke Nusantara. Ketiga, tentang periode tanam paksa dengan fokus budidaya kopi.

Keempat, ruang Multatuli dan pengaruhnya kepada para tokoh gerakan kemerdekaan.

Kelima, menceritakan gerakan perlawanan rakyat Banten dan kemudian gerakan pembebasan Indonesia dari penjajah Belanda.

Keenam, terdiri dari rangkaian kronologis peristiwa penting di Lebak dan era purbakala. Ketujuh, terdiri dari foto mereka yang pernah lahir, menetap serta terinspirasi dari Lebak. (You/Red)