LEBAK – Petani timun suri di Desa Banjarsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, mengalami kerugian besar akibat cuaca yang tidak menentu. Curah hujan tinggi merusak banyak tanaman sebelum memasuki masa panen.
Hujan yang terus mengguyur lahan menyebabkan tanaman muda membusuk. Buah timun suri yang seharusnya siap dipasarkan menjelang Ramadan justru rusak karena terendam air terlalu lama.
Sarif, salah seorang petani timun suri setempat, mengaku kondisi tersebut sangat memukul hasil panennya tahun ini. Padahal, permintaan timun suri biasanya meningkat tajam selama bulan Ramadan.
“Waktu tanam hujannya banyak sekali. Pohon masih kecil sudah terus kena hujan, jadi banyak yang busuk. Buah pertama kurang menghasilkan,” kata Sarif, Sabtu (21/2/2026).
Ia menyebut pendapatannya turun drastis dibandingkan musim sebelumnya. Pada tahun-tahun dengan cuaca normal, Sarif bisa mengantongi Rp5 juta hingga Rp8 juta selama Ramadan. Namun tahun ini, ia memperkirakan hanya meraih sekitar Rp3 juta.
“Kalau tahun-tahun bagus bisa sampai Rp7 juta atau Rp8 juta. Sekarang paling sekitar Rp3 juta saja karena banyak yang gagal akibat hujan,” ujarnya.
Meski hasil panen menurun, Sarif tetap menanam timun suri karena komoditas tersebut selalu dibutuhkan masyarakat saat Ramadan, terutama sebagai bahan minuman berbuka puasa.
Ia berharap cuaca segera membaik agar produksi kembali meningkat dan petani bisa memperoleh hasil yang lebih layak.
“Semoga ke depan cuaca lebih bersahabat supaya produksi meningkat dan petani bisa dapat keuntungan lebih baik,” tutupnya.
Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd
